NARASITODAY.COM, JAKARTA – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China terkait pengembangan kecerdasan buatan (AI) kembali menjadi sorotan. Sejumlah pakar menilai kedua negara perlu segera duduk bersama membahas batas penggunaan AI, terutama di sektor pertahanan, demi mencegah eskalasi kompetisi teknologi yang semakin mengkhawatirkan.
Dorongan ini muncul karena AI kini semakin banyak diterapkan dalam sistem persenjataan dan strategi militer. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran etika, keamanan, hingga akuntabilitas, terutama jika teknologi digunakan tanpa pengawasan yang jelas.
Peneliti dari Pusat Keamanan Internasional dan Strategi Universitas Tsinghua, Sun Chenghao, melihat potensi kerja sama di bidang regulasi AI militer sebagai pintu masuk dialog baru antara AS dan China. Ia menilai tata kelola AI global hanya bisa berjalan efektif jika dua negara pemimpin teknologi ini terlibat aktif.
Namun tensi yang masih tinggi membuat upaya tersebut belum mudah. “Ketegangan antara China dan AS membuat kerja sama tata kelola AI yang efektif sulit dijalankan,” ujarnya.
Anggota Komite Akademik CISS, Zhang Tuosheng, juga menyerukan agar kedua negara segera melanjutkan dialog antarpemerintah mengenai AI. Menurutnya, pertemuan lanjutan penting untuk membahas penggunaan AI dalam perangkat militer dan menjalankan komitmen yang sebelumnya telah disepakati pada level pemimpin negara.
China dan AS sebenarnya sudah membuka dialog pertama mengenai AI pada Mei tahun lalu. Pembahasannya mencakup risiko serta mitigasi penggunaan AI, namun hingga kini belum ada kelanjutannya.
Pada pertemuan di Lima, Peru, Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Joe Biden sepakat bahwa keputusan penggunaan senjata nuklir harus tetap berada di tangan manusia, bukan AI—sebuah langkah yang menjadi titik temu keduanya. Meski demikian, perbedaan pandangan tetap terlihat jelas.
China, misalnya, menolak menandatangani pakta non-mengikat terkait penggunaan AI yang bertanggung jawab di sektor militer pada KTT Seoul 2024. Di sisi lain, AS memperketat ekspor teknologi seperti chip AI kelas atas karena khawatir digunakan untuk memperkuat kekuatan militer China.
Situasi ini menunjukkan bahwa meski peluang dialog masih terbuka, jalan menuju kerja sama jangka panjang di bidang AI masih penuh tantangan. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : detikfinance














