NARASITODAY.COM, JAKARTA – Komoditas wortel menjadi salah satu penyumbang inflasi nasional pada November 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa gejolak harga komoditas ini dipicu oleh terganggunya pasokan akibat faktor cuaca ekstrem yang melanda Indonesia dalam beberapa bulan terakhir.
BPS mencatat, tekanan inflasi pada November 2025 mencapai 0,17% secara bulanan (month-to-month/mtm), sementara inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) berada di level 2,72%.
“Wortel mungkin saat ini mengalami inflasi yang cukup tinggi karena memang salah satunya disebabkan oleh faktor cuaca,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, saat konferensi pers, Senin (1/12/2025).
Wortel menyumbang andil inflasi sebesar 0,02% pada November 2025, sejajar dengan ikan segar. Sumbangan inflasi terbesar masih didominasi oleh emas perhiasan (0,08%), tarif angkutan udara (0,04%), dan bawang merah (0,03%). Tekanan inflasi pada bulan ini sedikit mereda berkat deflasi yang disumbang oleh komoditas pangan lain seperti daging ayam ras, beras, dan cabai.
Pudji menjelaskan bahwa tekanan inflasi pada wortel ini diakibatkan oleh terganggunya pasokan jelang akhir tahun. Hujan dengan intensitas tinggi di sentra-sentra produksi hortikultura menjadi biang keladinya.
“Hujan dengan intensitas yang tinggi di beberapa daerah terutama juga di beberapa sentra produksi hortikultura, mengakibatkan pasokan dari hasil hortikultura tersebut tentunya terganggu,” ucap Pudji.
Faktor cuaca ekstrem tidak hanya mengganggu proses tanam, tetapi juga memengaruhi hasil panen. Wortel, bersama dengan produk hortikultura lainnya seperti bawang merah, jeruk, dan sawi hijau, menjadi penyumbang utama inflasi untuk komponen harga pangan bergejolak (volatile food).
“Potensi panen yang terkendala karena faktor ini juga menjadi salah satu pemicu berpengaruhnya atau terpengaruhnya supply dari komoditas wortel ini,” tutur Pudji, seraya menambahkan “Kualitas hasil pertanian yang juga mungkin akan terganggu dengan kondisi cuaca yang ada termasuk juga produk hortikultura, sayur-sayuran seperti wortel.”
Isu pasokan wortel dalam negeri juga diperkuat oleh data impor yang mencatat lonjakan ekstrem. Berdasarkan catatan tim riset CNBC Indonesia, nilai impor wortel Indonesia pada periode Januari-Mei 2025 melonjak tajam menjadi US$ 0,2501 juta (sekitar Rp 4 miliar).
Kenaikan ini mencapai 1.389.140% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, setelah impor wortel sempat mencatat nilai yang hampir nihil sejak tahun 2022.
Lonjakan ekstrem impor ini diindikasikan sebagai sinyal adanya gangguan struktural pada produksi wortel dalam negeri. Produksi wortel domestik, yang sempat mencapai puncaknya pada 2022, menyusut signifikan pada tahun 2023 (turun lebih dari 69.000 ton). Jika penurunan produksi berlanjut, kekurangan suplai di awal tahun 2025 dapat memaksa pelaku pasar untuk menutup celah dengan impor besar-besaran.***
Editor : Alysa














