Pasokan Kopi Indonesia Terancam Jeda Panen Panjang Hingga Agustus 2026

0
kopi
Ilustrasi buah kopi dan biji kopi. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, HANOI — Curah hujan tak henti-hentinya mengguyur wilayah Central Highlands, Vietnam sentra produksi robusta terbesar di dunia sejak awal Desember 2025. Kondisi ini secara signifikan menghambat proses pemetikan dan pengeringan biji kopi, demikian dilaporkan para pedagang komoditas pada Kamis (4/12/2025).

Hambatan cuaca ini terjadi saat petani sedang berada di puncak musim panen. “Petani baru memanen sekitar 50%–60% dari total tanaman. Biji sudah mulai masuk, tetapi hujan membuat proses pengeringan terhambat,” ujar seorang pedagang yang berbasis di kawasan Central Highlands, menyoroti tantangan logistik yang dihadapi petani.

Intensitas curah hujan yang tinggi tidak hanya melambatkan pasokan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kualitas biji kopi yang akan dipasarkan. Pedagang lain menambahkan bahwa kondisi basah ini berpotensi menurunkan kualitas dan meningkatkan proporsi biji gelap yang merupakan indikasi kerusakan akibat kelembaban.

Baca Juga :  Monday Blues Musim Hujan Hilang! 5 Ritual Pagi yang Bikin Hari Meledak

Di tingkat petani, harga robusta pun langsung terpengaruh. Petani di Central Highlands menjual biji kopi pada kisaran 102.800–103.800 dong (US$3,90–US$3,94) per kg. Angka ini mengalami penurunan dari harga pekan sebelumnya yang mencapai 110.500–111.500 dong per kg.

Pergerakan di pasar berjangka juga mencerminkan kondisi pasokan yang tegang. Harga robusta untuk pengiriman Maret ditutup melemah US$7 menjadi US$4.212 per ton pada penutupan perdagangan Rabu (3/12/2025).

Baca Juga :  Musim Hujan 2026 Berakhir Bertahap, Jawa-Bali Mulai April Masuk Kemarau

Di pasar fisik, pedagang menawarkan robusta grade 2 kadar cacat 5% dengan diskon yang cukup dalam, berkisar US$160–US$170 per ton, bahkan ada yang mencatat diskon hingga US$200 terhadap kontrak LIFFE Maret.

Sementara Vietnam bergulat dengan panen yang basah, pasar kopi robusta di Indonesia menunjukkan dinamika yang berbeda dan stok yang menipis.

Di Sumatra, sentra robusta Indonesia, premi kopi cenderung melemah. Premi robusta Sumatra dilaporkan turun menjadi US$90 terhadap kontrak Desember, anjlok dari US$130 pada pekan sebelumnya.

Baca Juga :   Tarif Listrik Tetap di Triwulan IV 2025, Pemerintah Jaga Daya Beli Masyarakat

Namun, terdapat perbedaan pandangan. Pedagang lain mencatat premi untuk kontrak Maret justru naik menjadi US$20, dibandingkan US$10 pekan lalu.

Kondisi ini didorong oleh menipisnya cadangan kopi di gudang-gudang utama menjelang jeda antar-panen. “Stok kopi di Lampung mulai menipis, sementara panen berikutnya baru dimulai pada Agustus,” kata salah satu pedagang di Indonesia, menggarisbawahi jeda pasokan yang panjang.

Data kantor dagang setempat menunjukkan ekspor biji kopi robusta Sumatra pada Oktober tercatat 36.455,8 ton, turun 2,26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menandakan tren penurunan pasokan.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber