Rumah Hampir Roboh, Disabilitas di Cibinong Akhirnya Dapat Respons dari Pemkab Bogor

0
Rumah rusak
Luthfi Mukhtadi (41), saat menunjukkan atap rumahnya yang sering bocor dikala hujan datang didirinya dalam bayang bayang was-was. Foto (Andres/Narasitoday.com)

NARASITODAY.COM, BOGOR- Pemerintah Kabupaten Bogor lewat Dinas Sosial (Dinsos) langsung turun tangan setelah rumah milik penyandang disabilitas di Kampung Kedung Umpal, Kelurahan Karadenan, Cibinong, rusak parah terkena bencana alam.

Kepala Dinsos Kabupaten Bogor, Farid Ma’rup, bilang pihaknya sudah melakukan penanganan pascabencana dan menindaklanjuti kondisi rumah yang rusak.

“Kalau penanganan dampak pasca-bencananya sedang kami tangani,” ujar Farid, Kamis (4/12/2025).

Melihat kondisi rumah korban yang dinilai sudah sangat memprihatinkan, Dinsos langsung berkoordinasi dengan Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP).

“Kami koordinasi dengan DPKPP sesuai arahan Pak Bupati untuk dilakukan penanganan terhadap rumahnya,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa bantuan pemerintah bukan cuma buat penyandang disabilitas saja, tapi untuk semua warga yang terdampak bencana.

Baca Juga :  Sekda Kabupaten Bogor Dorong Pengembangan Seni dan Kreativitas di Tengah Pembangunan Kota Cibinong

“Siapapun yang terdampak bencana, negara wajib hadir. Jangan sampai mereka nggak bisa makan atau nggak punya tempat tinggal,” tegasnya.

Korban bencana, Luthfi Muhtadi (41), penyandang disabilitas yang tinggal bersama istri, anak, dan kedua mertuanya, sudah lama bertahan hidup di rumah yang nyaris roboh. Atapnya bocor di banyak bagian, dinding penuh retakan besar, lantainya ambles.

Setiap kali hujan, Luthfi dan keluarga harus cepat-cepat mindahin kasur ke tempat yang paling sedikit bocor.

“Rumah ini sudah nggak kuat. Kalau hujan deras, kami pindahin kasur,” ucapnya.

Baca Juga :  Wakil Bupati Bogor Dukung Evaluasi Jalur Tambang untuk Seimbangkan Pembangunan dan Lingkungan

Luthfi mengalami disabilitas sejak kecelakaan di Jonggol pada 2010. Ia harus berjalan pakai tongkat dan kesulitan mendapat pekerjaan.

“Sekarang kerjaan lihat fisik. Kondisi saya begini, siapa yang mau terima?” katanya lirih.

Penghasilan keluarga hanya mengandalkan mertua yang kerja serabutan sebagai tukang ojek dan pengumpul rongsokan. Situasi makin berat karena pengajuan bantuan RuTiLaHu yang ia lakukan bertahun-tahun tak pernah mendapat respons.
“Saya sudah lapor ke IG bupati, wakil bupati, kecamatan, PUPR. Tapi nggak ada respons,” ungkap Luthfi.

Ia bahkan sempat ke Gedung Sate Bandung buat mengadu ke Pemprov Jawa Barat, tapi tetap buntu.

Karena merasa tak dipedulikan, ia akhirnya memutuskan memviralkan kondisi rumahnya di media sosial.

Baca Juga :  Pemkab Bogor Tertibkan 17 Bangunan Liar di Pasar Ciluar, Lanjutkan Penataan Cibinong Raya

“Sekarang kalau nggak viral, nggak bakal dilirik,” katanya.

Rumah yang ditempati Luthfi kini sangat membahayakan. Atapnya menggantung, balok-balok penopang rapuh, dan tiap ada angin besar, bangunan itu bergetar seperti mau runtuh.

“Saya cuma ingin rumah direnovasi. Saya disabilitas, harusnya ada jalur khusus. Saya cuma ingin keluarga tinggal dengan aman,” ujarnya.

Di balik dinding yang hampir roboh itu, satu keluarga terus bertahan—tak hanya menunggu bantuan, tapi juga menunggu kepedulian dari pemerintah.

“Pemkab jangan cuma ngurusin CFD, tapi urusin juga warganya yang butuh,” tutupnya.***

 

Editor : Andreas