Israel Tingkatkan Intensitas Serangan Udara di Suriah Satu Tahun Setelah Assad Tumbang

0
Israel
Serangan Israel di Suriah mencapai intensitas tertinggi setahun setelah jatuhnya Damaskus, dengan lebih dari 600 serangan udara, drone, dan artileri dilancarkan sepanjang Desember 2024–November 2025.Foto : metrotvnews.com

NARASITODAY.COM, SURIAH – Satu tahun setelah jatuhnya Damaskus dan berakhirnya 54 tahun kekuasaan dinasti Bashar al-Assad, Suriah justru menjadi medan operasi militer Israel yang paling intens dalam sejarah kawasan. Kekacauan pasca-rezim lama membuka ruang bagi Israel untuk melancarkan ratusan serangan dan bahkan menduduki wilayah baru di sekitar Dataran Tinggi Golan.

Rangkaian serangan tersebut menargetkan infrastruktur tempur, sistem pertahanan udara, bandara utama, jet tempur, hingga fasilitas strategis lain yang dulunya dikendalikan oleh rezim al-Assad.

Data yang dihimpun oleh Armed Conflict Location and Event Data (ACLED), sebagaimana dikutip Al Jazeera, menunjukkan lonjakan drastis dalam aktivitas militer Israel.

Dalam periode 8 Desember 2024 hingga 28 November 2025, Israel tercatat telah melancarkan lebih dari 600 serangan udara, drone, maupun artileri. Angka ini setara dengan rata-rata hampir dua kali serangan setiap hari.

Baca Juga :  Israel Tutup Semua Tempat Suci Kota Tua Yerusalem Demi Keamanan

Mayoritas serangan tersebut terkonsentrasi di tiga gubernuran di Suriah bagian selatan, yang menyumbang hampir 80% dari total serangan:

  • Quneitra: Wilayah yang berbatasan langsung dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, menjadi area paling sering diserang dengan sedikitnya 232 serangan.
  • Deraa: Mencatat 167 serangan, sebagian besar menargetkan bekas pos militer dan konvoi yang dicurigai membawa senjata.
  • Damaskus: Mengalami setidaknya 77 serangan, termasuk 20 serangan di Kota Damaskus sendiri.

Selama bertahun-tahun, Israel berulang kali melancarkan operasi di Suriah dengan klaim menargetkan instalasi militer Iran. Namun, setelah tumbangnya al-Assad, fokus Israel bergeser. Israel menyatakan mereka berusaha mencegah persenjataan rezim lama jatuh ke tangan pihak yang mereka sebut “ekstremis,” merujuk pada berbagai kelompok oposisi, termasuk Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang memimpin operasi penggulingan al-Assad.

Baca Juga :  BPBD Bogor Pasang Jaring dan Gunakan Drone Cari Korban Hanyut di Sungai Cikaniki

Hanya empat hari setelah rezim al-Assad tumbang, Israel mengumumkan telah mencapai “superioritas udara total” dengan menghancurkan lebih dari 80% sistem pertahanan udara Suriah langkah yang diklaim Israel diperlukan agar negara baru di Suriah tidak menjadi ancaman militer.

Selain serangan udara, kekosongan kekuasaan juga dimanfaatkan untuk operasi darat. Tak lama setelah kejatuhan Damaskus, pasukan Israel menyeberang ke sisi Suriah di Dataran Tinggi Golan, melanggar kesepakatan gencatan senjata PBB tahun 1974.

Militer Israel dengan cepat membangun sejumlah pos militer baru, termasuk di Jabal al-Sheikh dan desa-desa di area zona demiliterisasi yang seharusnya berada di bawah pengawasan PBB. Dari wilayah-wilayah ini, Israel melancarkan serangan udara dan operasi darat secara berkala.

Baca Juga :  Zohran Mamdani Berpeluang Jadi Muslim Pertama Wali Kota New York

Langkah ini menuai kritik tajam dari komunitas internasional. PBB dan sejumlah negara Arab mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah.

Meskipun demikian, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan pada Februari lalu bahwa pasukannya akan tetap berada di wilayah tersebut tanpa batas waktu. Tindakan ini, katanya, untuk “melindungi warga Israel” dan “mencegah entitas bermusuhan memperoleh pijakan” di dekat perbatasan.

Di sisi lain, Presiden Ahmed al-Sharaa yang kini memimpin pemerintahan baru Suriah berulang kali menegaskan bahwa pemerintahannya tidak mencari konflik dengan Israel dan tidak akan mengizinkan pihak asing menggunakan teritori Suriah untuk melancarkan serangan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com