
NARASITODAY.COM, NEW DELHI – Pekan lalu, India baru saja terbius oleh sihir Lionel Messi. Megabintang berjuluk The GOAT itu menuntaskan tur bertajuk ‘GOAT Tour’ pada 13-15 Desember, menyisir Kolkata hingga New Delhi bersama rekan-rekan setimnya di Inter Miami, Rodrigo De Paul dan Luis Suarez. Stadion-stadion penuh sesak oleh puluhan ribu pasang mata yang haus akan hiburan kelas dunia.
Namun, di balik gemerlap lampu stadion dan sorak-sorai memuja Messi, sepak bola India justru sedang berada di ruang gawat darurat. Kompetisi kasta tertinggi mereka, Indian Super League (ISL), tak kunjung bergulir untuk musim 2025/2026.
Penyebab mandeknya liga adalah masalah klasik: finansial. ISL dilaporkan belum mendapatkan sponsor utama sebagai pemegang hak siar. Kabarnya, dibutuhkan dana sekitar 6 juta USD atau setara Rp100 miliar hanya untuk meniup peluit kick-off musim baru.
Kontras antara stadion yang penuh saat Messi datang dengan kosongnya jadwal pertandingan liga domestik memicu keresahan para pemain lokal. Sandesh Jhingan, bek tengah andalan FC Goa dan Timnas India, akhirnya menumpahkan unek-uneknya melalui media sosial.
“Pertama dan terutama, saya benar-benar senang melihat bahwa negara kita memang mencintai sepakbola, bahwa stadion dapat terisi penuh dan orang-orang bersedia menghabiskan banyak uang,” buka pemain dengan 72 caps untuk Timnas India tersebut.
Bagi Jhingan, kehadiran Messi adalah berkah, namun realitas bahwa liga mereka sendiri sedang mati suri adalah sebuah tragedi. Tanpa liga yang aktif, para pemain kehilangan pekerjaan dan masa depan tim nasional menjadi tanda tanya besar.
“Namun yang membuat saya merenung dalam-dalam, adalah bahwa pada saat ekosistem sepakbola kita sendiri sedang dalam bahaya, bisa dibilang menghadapi salah satu fase tersulitnya. Kita berada di ambang kehancuran dan tidak memiliki sepakbola domestik yang aktif. Rasanya seolah-olah kita hampir menutup semuanya karena tidak ada kemauan untuk berinvestasi dalam sepakbola di India,” papar Jhingan getir.
Ia menekankan bahwa sepak bola profesional tidak bisa hidup hanya dari euforia kedatangan pemain asing satu-dua hari saja. Menurutnya, stabilitas kompetisi adalah jantung dari olahraga ini.
“Sepakbola kita sekarang sedang dalam isolasi dan itu seharusnya tidak boleh terjadi. Siapapun yang memahami olahraga ini pasti tahu betul betapa besarnya struktur, stabilitas, dan kepercayaan terhadap apa yang akhirnya terjadi di lapangan,” tambahnya.
Tur Messi telah berakhir, dan kini India kembali ke kenyataan bahwa mereka tidak memiliki sepak bola domestik yang berjalan. Jhingan berharap antusiasme luar biasa yang ditunjukkan warga untuk Messi bisa menjadi tamparan bagi pemangku kebijakan.
“I benar-benar senang bahwa jutaan orang mengalami momen sekali seumur hidup dan melihat mimpi mereka menjadi kenyataan (melihat Messi). Saya hanya berharap kesempatan ini memicu percakapan yang lebih dalam, bukan hanya tentang mencintai sepakbola, tetapi juga tentang mempertahankannya di dalam negeri,” tutup Jhingan.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com













