NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) resmi merilis ribuan dokumen terkait mendiang terpidana kejahatan seksual, Jeffrey Epstein. Langkah ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan pemenuhan mandat Undang-Undang yang disahkan Kongres pada November lalu untuk membuka tabir gelap jaringan Epstein ke hadapan publik.
Lembar demi lembar dokumen yang dirilis tersebut memicu kehebohan global. Nama-nama besar dari panggung politik hingga panggung musik dunia mendadak muncul dalam manifes dan catatan yang sebelumnya tersimpan rapat. Mulai dari mantan Presiden AS Bill Clinton, vokalis legendaris Rolling Stones Mick Jagger, hingga ikon pop Michael Jackson kini berada di bawah sorotan lampu publik.
Sentuhan drama mewarnai rilis kali ini saat media internasional seperti BBC mengunggah foto-foto yang menunjukkan kehadiran tokoh-tokoh seperti Diana Ross hingga aktor Chris Tucker dalam lingkaran pergaulan sang miliarder. Meski demikian, kehadiran nama atau foto tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya tindakan kriminal.
Sejumlah pihak yang teridentifikasi dalam dokumen-dokumen sebelumnya telah membantah keras melakukan kesalahan terkait hubungannya dengan Epstein. Namun, di antara ribuan halaman tersebut, masih banyak misteri yang tersisa. Sejumlah dokumen bahkan tampil dalam kondisi hitam sepenuhnya karena penyuntingan ketat oleh otoritas hukum.
Nama mantan Presiden Donald Trump pun muncul, meski dalam porsi yang lebih sedikit dibandingkan dokumen-dokumen yang dirilis sebelumnya pada Februari lalu. Kala itu, nama Trump tercatat dalam manifes penerbangan pesawat pribadi Epstein.
Perilisan ini juga memicu tensi politik yang memanas antara kubu Trump dan Clinton. Departemen Kehakiman terlihat memberikan perhatian khusus pada Bill Clinton, termasuk dengan mengunggah foto-foto lama sang mantan presiden bersama para korban Epstein di media sosial.
Langkah ini langsung mendapat reaksi keras dari tim Clinton. Wakil kepala staf Clinton, Angel Urena, menilai ada upaya pengalihan isu yang dilakukan oleh pemerintah.
“Mereka bisa merilis sebanyak mungkin foto buram yang diinginkan berusia lebih dari 20 tahun, namun ini bukan soal Bill Clinton,” tegas Urena.
Clinton sendiri sebelumnya telah menyatakan penyesalannya pernah bergaul dengan Epstein dan bersikeras bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui praktik kriminal yang dilakukan sang predator seksual tersebut.
Hingga saat ini, Departemen Kehakiman menyatakan bahwa pengungkapan ini barulah permulaan. Masih terdapat ratusan ribu halaman dokumen tambahan yang tengah ditinjau dan kemungkinan besar akan segera dirilis di masa depan.
Kritikus berpendapat bahwa perintah penyelidikan terhadap hubungan Clinton-Epstein yang sempat dikeluarkan Trump bulan lalu merupakan taktik untuk mengalihkan fokus dari hubungan pribadi Trump sendiri dengan Epstein di masa lalu. Kini, publik dunia menanti apa lagi yang akan terungkap dari tumpukan berkas yang masih tersisa di meja Departemen Kehakiman.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














