NARASITODAY.COM, JAKARTA – Nasi sisa kerap dianggap masih layak dikonsumsi selama tidak berbau, tidak berlendir, dan warnanya tampak normal. Namun, anggapan tersebut ternyata masih keliru dan berisiko bagi kesehatan jika cara penyimpanan serta pemanasannya tidak tepat.
Ahli gizi menjelaskan bahwa nasi matang termasuk makanan berisiko tinggi karena dapat menjadi tempat tumbuhnya bakteri Bacillus cereus. Bakteri ini mampu bertahan dalam bentuk spora saat proses memasak dan dapat berkembang kembali ketika nasi disimpan pada suhu yang tidak sesuai, bahkan sebelum muncul tanda-tanda basi.
Karena itu, keamanan nasi sisa tidak bisa dinilai hanya dari tampilan atau aromanya. Faktor utama yang menentukan aman atau tidaknya nasi untuk dikonsumsi adalah suhu dan lama penyimpanan. Nasi matang yang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang berisiko terkontaminasi bakteri meski terlihat masih baik.
Di Indonesia, prinsip keamanan pangan menekankan pentingnya pengendalian suhu makanan matang. Makanan panas idealnya dijaga pada suhu minimal 60 derajat Celsius, sementara makanan yang disimpan dingin sebaiknya berada di bawah 4 derajat Celsius. Prinsip ini berlaku untuk berbagai jenis makanan, termasuk nasi.
Pemanasan ulang nasi basi juga tidak selalu menjamin keamanannya. Racun yang dihasilkan oleh bakteri tertentu bersifat tahan panas dan tidak hilang meskipun nasi dipanaskan kembali. Akibatnya, konsumsi nasi yang telah terkontaminasi tetap berisiko menyebabkan keracunan makanan, seperti mual, muntah, hingga diare.
Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat disarankan segera mendinginkan nasi sisa dan menyimpannya dalam wadah tertutup di lemari es jika tidak langsung dikonsumsi. Dengan cara penyimpanan yang tepat, nasi sisa masih bisa dimanfaatkan tanpa mengorbankan kesehatan. (MG3)Â
Editor : Mutiara
Sumber : detikHealth














