BMKG Ungkap Penyebab Puting Beliung di Bogor, Interaksi Awan Cumulonimbus Jadi Pemicu Utama

0
Bogor
potongan sayap pesawat bekas terlempar dari sebuah gudang penyimpanan dan menghujam rumah warga.Foto : Sholihin/detikcom

NARASITODAY.COM, BOGOR – Langit di atas Desa Pondok Udik, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, mendadak gelap sebelum angin berputar hebat menyapu wilayah tersebut pada Senin (29/12/2025). Peristiwa alam ini menyisakan pemandangan yang tak biasa: potongan sayap pesawat bekas terlempar dari sebuah gudang penyimpanan dan menghujam rumah warga.

Insiden dramatis ini menarik perhatian publik karena puing logam raksasa tersebut sanggup “terbang” sejauh ratusan meter akibat daya angkat angin yang luar biasa.

Kepala Desa Pondok Udik, M. Sutisna, mengonfirmasi bahwa musibah yang menimpa warganya merupakan dampak langsung dari pusaran angin yang menerjang area pemakaman pesawat bekas di wilayah tersebut.

“Pada hari ini, Senin tanggal 29 Desember, telah terjadi musibah yang diakibatkan dari adanya puting beliung. Dampak tersebut diakibatkan salah satunya dari bangkai pesawat, yang kurang lebih 300 meter ini terbang, menimpa kepada rumah warga kami,” kata Sutisna.

Baca Juga :  Menpar Desak Polri Segera Tuntaskan Kasus Pemerasan Penonton DWP 2024

Ia menambahkan bahwa benda yang jatuh di atap rumah warga tersebut merupakan bagian spesifik dari badan pesawat. “Kalau kita melihat daripada hal tersebut, ini bagian daripada sayap. Potongan sayap pesawat yang ada di kuburan pesawat tersebut, terbawa angin puting beliung,” imbuhnya.

Menanggapi fenomena tersebut, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa puting beliung yang terjadi di Bogor merupakan hasil dari ketidakstabilan atmosfer yang ekstrem. Fenomena ini dipicu oleh pertemuan udara panas lembap di permukaan dengan udara dingin di lapisan atas.

Baca Juga :  Janggal! Logistik Pemilu Di Ciomas Kurang tiga Kotak DPRD Kabupaten Bogor 

“Faktor utama, puting beliung adalah fenomena angin berputar dengan kecepatan tinggi, biasanya muncul dari awan cumulonimbus saat cuaca ekstrem lokal,” ujar Guswanto kepada wartawan, Selasa (30/12/2025).

Guswanto merinci bahwa angin spiral tersebut bergerak dengan kecepatan di atas 34,8 knot atau lebih dari 64 km/jam. Kecepatan inilah yang mampu mengangkat beban berat seperti puing pesawat dan melemparkannya ke pemukiman.

“Puting beliung bukan sekadar ‘angin kencang biasa’, melainkan hasil interaksi kompleks antara awan CB (cumulonimbus), suhu, kelembapan, dan angin. Fenomena ini sering muncul mendadak, singkat, tapi bisa sangat merusak,” jelasnya lagi.

Baca Juga :  Gaya Hidup Penyebab Asam Urat? Ini 5 Faktor yang Sering Diabaikan!

Mengingat sifatnya yang muncul secara tiba-tiba dan sulit diprediksi secara detail lokasinya, BMKG meminta masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tanda alam, terutama kemunculan awan cumulonimbus yang berbentuk menyerupai bunga kol berwarna gelap.

“BMKG menghimbau agar mewaspadai tanda-tanda awan CB saat cuaca ekstrem, menghindari berteduh di bawah pohon besar atau bangunan rapuh. Ikuti peringatan dini BMKG, pastikan rumah memiliki struktur atap yang kuat di daerah rawan,” tegas Guswanto.

Hingga saat ini, petugas terkait masih melakukan pendataan terhadap kerugian materiil di Desa Pondok Udik, sementara puing sayap pesawat yang menimpa rumah warga tengah dalam proses evakuasi.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com