NARASITODAY.COM, JAKARTA – Kang Sang-ung (Lee Jun-ho) adalah potret pria kelas menengah kebanyakan. Hidupnya berjalan datar: pekerjaan biasa, tanpa hobi menonjol, dan dihantui satu kecemasan klasik generasi dewasa muda—bagaimana caranya punya rumah sendiri.
Selama sembilan tahun, ia menjalin hubungan dengan Kim Min-sook (Kim Hye-jun). Sang kekasih sudah siap melangkah ke pernikahan, menyusun masa depan dengan rapi, dan menjadikan kepemilikan rumah sebagai target paling realistis. Dengan uang muka yang besar dan tekanan hidup yang nyata, Sang-ung merasa beruntung memiliki Min-sook yang cermat mengatur keuangan mereka.
Suatu hari, ayah Sang-ung memintanya pulang. Ia mengira kunjungan itu hanya akan berujung pada oleh-oleh sayuran, seperti biasa. Namun yang diwariskan sang ayah justru sesuatu yang jauh dari normal: kekuatan super.
Sang-ung mendadak mampu melompat setinggi gedung, menghancurkan beton, mengangkat truk, dan melakukan aksi-aksi mustahil lainnya. Masalahnya, setiap kali kekuatan itu digunakan, uang tunai di sakunya akan menghilang. Ia hanya bisa menjadi pahlawan selama masih punya uang—dan semakin heroik tindakannya, semakin cepat pula ia jatuh miskin.
Review
Diadaptasi dari webtoon karya tim Befar, Cashero hadir sebagai serial superhero yang terasa dekat dengan realitas. Alih-alih mengangkat pahlawan dengan konflik besar berskala dunia, serial ini memilih cerita yang lebih membumi: kecemasan ekonomi, tekanan sosial, dan relasi personal.
Pendekatan ini mengingatkan pada daya tarik Peter Parker—bukan karena kekuatannya, tapi karena problem hidupnya. Cashero membawa gagasan itu ke tingkat yang lebih ekstrem: kekuatan super bukan solusi, melainkan sumber masalah baru.
Serial ini juga tak lepas dari konteks sosial Korea Selatan yang dikenal sangat konsumtif dan berorientasi pada citra. Dalam masyarakat di mana “tampak layak” sering kali lebih penting daripada stabil secara finansial, Cashero menjadi kritik halus terhadap kapitalisme modern—dikemas lewat genre superhero.
Keputusan naratif yang menarik adalah keterbukaan Sang-ung terhadap Min-sook soal kekuatannya. Tidak ada rahasia panjang atau identitas ganda yang bertele-tele. Transparansi ini justru meningkatkan tensi drama, karena setiap aksi heroik kini punya konsekuensi yang bisa dihitung: berapa uang yang harus dikorbankan.
Keunikan serial ini semakin kuat lewat karakter pendukungnya. Bang Eun-mi (Kim Hyang-gi) memiliki kemampuan telekinesis yang bergantung pada kalori—memaksanya terus makan. Sementara Byeon Ho-in (Kim Byung-chul), seorang pengacara, hanya bisa menembus benda padat setelah menenggak alkohol. Kekuatan super dalam Cashero selalu datang dengan harga yang harus dibayar.
Di sisi antagonis, Jo Anna (Kang Han-na) dan Jo Nathan (Lee Chae-min) hadir sebagai representasi ambisi dan rasa iri. Meski konflik mereka terasa kurang dieksplorasi secara mendalam, serial ini menutupinya dengan adegan aksi yang solid dan visual yang memikat.
Dengan delapan episode berdurasi padat, Cashero menjaga tempo cerita tetap hidup. Tidak ada adegan yang terasa sia-sia. Para pemain tampil dengan komitmen tinggi, membuat dunia Cashero terasa masuk akal meski premisnya absurd.
Cashero mungkin bukan serial superhero paling ambisius, tetapi ia menawarkan sesuatu yang jarang: pahlawan super yang justru semakin rapuh ketika mencoba berbuat baik. Sebuah tontonan akhir tahun yang relevan, segar, dan layak diikuti—serta pantas berharap akan berlanjut ke petualangan berikutnya. (MG5)
Editor : Nathania
Sumber : detikpop














