Krisis Banjir di Afghanistan Sebabkan Kematian dan Kerusakan Infrastruktur Masif

0
Afghanistan
Seorang remaja Afghanistan berjalan di sepanjang jalan yang banjir di Sheikh Jalal, provinsi Baghlan, Afghanistan Minggu, 12 Mei 2024.Foto : REUTERS

NARASITODAY.COM, KABULWarga Afghanistan kini harus berhadapan dengan murka alam yang ganda. Guyuran hujan lebat yang bercampur dengan lelehan salju telah memicu banjir bandang mematikan di berbagai penjuru negeri, mengubah pemukiman yang sudah rapuh menjadi aliran air yang menghancurkan.

Hingga awal Januari 2026, pihak berwenang melaporkan setidaknya 17 orang tewas dan 11 lainnya luka-luka. Tragedi paling memilukan terjadi di Provinsi Herat, di mana sebuah rumah berbahan tanah liat tak kuasa menahan beban cuaca ekstrem.

“Korban tewas termasuk lima anggota keluarga yang atap rumahnya runtuh di distrik Kabkan, provinsi Herat. Dua di antaranya adalah anak-anak,” ujar Mohammad Yousaf Saeedi, juru bicara gubernur Herat, sebagaimana dilansir dari Al Jazeera.

Baca Juga :  5 Macam Kehilangan Penglihatan dan Penjelasan Lengkapnya, Yuk Cek!

Bencana ini melumpuhkan aktivitas dari utara hingga selatan Afghanistan. Infrastruktur yang rusak dan tewasnya ternak yang merupakan harta paling berharga bagi warga desa semakin memperburuk kondisi 1.800 keluarga yang terdampak langsung.

Mohammad Yousaf Hammad, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana Afghanistan (ANDMA), menyebutkan bahwa sebagian besar laporan kematian mulai berdatangan sejak Senin (29/12/2025).

“Pihak kami telah mengirimkan tim asesmen ke wilayah yang paling terdampak parah. Proses pendataan masih berlangsung untuk menentukan kebutuhan lebih lanjut,” tambah Hammad.

Kondisi geografi dan infrastruktur yang buruk akibat konflik puluhan tahun menjadikan Afghanistan salah satu negara paling rentan di dunia terhadap cuaca ekstrem. Banjir bandang musiman kini menjadi lebih mematikan karena penggundulan hutan dan dampak perubahan iklim yang kian intens.

Baca Juga :  Norwegia Rancang Larangan Perdagangan Barang dari Permukiman Israel di Wilayah Palestina

Tragedi ini seolah mengulang duka bulan Agustus lalu, saat gempa besar menewaskan 1.400 orang dan upaya penyelamatannya pun terhambat oleh banjir serupa.

Memasuki tahun 2026, masa depan Afghanistan masih dibayangi oleh krisis kemanusiaan terbesar di dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat bahwa lebih dari sepertiga penduduk akan menghadapi kerawanan pangan tingkat krisis selama musim paceklik 2025–2026.

Menanggapi situasi darurat ini, PBB dan mitra kemanusiaannya pada Selasa (30/12/2025) resmi meluncurkan permohonan dana global.

Baca Juga :  5 Faktor Risiko Rumah Tersambar Petir, Jangan Sampai Mengabaikannya

“Permohonan dana sebesar 1,7 miliar dolar AS (sekitar Rp28 triliun) diluncurkan untuk membantu hampir 18 juta orang yang membutuhkan bantuan mendesak di negara tersebut,” tulis laporan PBB.

Potret kemiskinan kian nyata dengan data yang menunjukkan 25 persen rumah tangga masih bergantung pada sumber air tidak layak, sementara banyak keluarga terpaksa menjual aset penting mereka hanya demi mendapatkan sepiring makanan. Di tengah kedinginan dan genangan air, rakyat Afghanistan kini hanya bisa bergantung pada uluran tangan dunia internasional untuk bertahan hidup.***

Editor : Alysa

Sumber : idntimes.com