NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Di tengah kegelapan informasi yang menyelimuti Iran, secercah harapan muncul dari orbit bumi. Saat rezim ulama di Teheran memutus urat nadi komunikasi warganya untuk meredam protes anti-pemerintah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melirik teknologi satelit sebagai kunci pembuka gembok digital tersebut.
Trump menyatakan rencananya untuk segera berdiskusi dengan miliarder Elon Musk guna memulihkan akses internet di Iran. Langkah ini diambil setelah otoritas Iran melumpuhkan layanan internet selama empat hari terakhir, menyusul gelombang demonstrasi besar yang mengguncang negara itu sejak 28 Desember lalu.
Dalam keterangannya kepada awak media, Trump memberikan sinyal kuat bahwa ia akan melibatkan SpaceX, perusahaan dirgantara milik Musk yang mengoperasikan layanan internet satelit Starlink.
“Dia sangat pandai dalam hal semacam itu, dia memiliki perusahaan yang sangat bagus,” ujar Trump saat ditanya mengenai potensi keterlibatan SpaceX dalam krisis informasi di Iran.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Musk maupun SpaceX belum memberikan tanggapan resmi. Namun, kedekatan keduanya kian terlihat setelah mereka sempat makan malam bersama di resor Mar-a-Lago bulan ini, meski sebelumnya sempat memiliki hubungan yang pasang surut.
Langkah ini bukanlah hal baru bagi Starlink. Pada tahun 2022, di bawah pemerintahan Biden, Starlink juga pernah dikerahkan untuk membantu warga Iran menghindari pembatasan pemerintah pasca-kematian Mahsa Amini. Teknologi ini juga menjadi krusial di wilayah konflik lain seperti Ukraina.
Kebutuhan akan internet saat ini sangat mendesak. Sejak pemadaman dimulai pada hari Kamis, arus informasi mengenai kondisi lapangan di Iran terhambat total. Padahal, ini merupakan protes terbesar yang dihadapi rezim Iran sejak 2022, yang dipicu oleh lonjakan harga kebutuhan pokok sebelum akhirnya meluas menjadi gerakan melawan kepemimpinan ulama.
Di balik senyapnya jaringan internet, pertumpahan darah dilaporkan terus terjadi. Organisasi hak asasi manusia yang berbasis di AS, HRANA, mengungkapkan data yang mengerikan terkait kerusuhan yang telah berlangsung selama dua minggu tersebut.
HRANA menyatakan telah memverifikasi kematian 490 demonstran dan 48 personel keamanan, dengan lebih dari 10.600 orang ditahan. Namun, hingga kini Iran belum merilis angka resmi, dan Reuters belum dapat memverifikasi jumlah korban secara independen karena keterbatasan akses.
Sebagai bagian dari penguatan kerja sama ini, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dijadwalkan mengunjungi fasilitas SpaceX di Texas pada hari Senin (12/1/2026), sebuah langkah yang kian menegaskan peran teknologi swasta dalam strategi pertahanan dan diplomasi global AS.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














