NARASITODAY.COM, JAKARTA – Pengalaman hidup yang dibagikan Aurelie Moeremans melalui bukunya Broken Strings menjadi pengingat penting akan bahaya child grooming yang masih kerap luput dari perhatian. Lewat kisah pribadinya, Aurelie mengajak publik untuk lebih waspada terhadap bentuk kekerasan seksual yang sering kali hadir secara halus dan terselubung.
Aurelie mengungkapkan bahwa dirinya menjadi korban grooming sejak usia remaja. Pengalaman tersebut tidak hanya meninggalkan luka emosional, tetapi juga membuka mata banyak orang bahwa pelaku kekerasan seksual kerap datang dari lingkungan terdekat dan membangun relasi secara perlahan. Lewat buku ini, Aurelie berharap para remaja, khususnya perempuan muda, bisa lebih peka mengenali tanda-tanda manipulasi sejak awal.
Pakar psikologi menjelaskan bahwa grooming merupakan proses yang dilakukan dengan penuh kesabaran. Pelaku biasanya membangun kepercayaan lewat perhatian, hadiah, atau sikap protektif, hingga korban merasa aman dan bergantung secara emosional. Dalam kondisi tersebut, korban sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Yang membuat grooming semakin berbahaya, dampaknya kerap baru terasa ketika korban beranjak dewasa. Ingatan dan pengalaman masa lalu yang semula terasa samar bisa berubah menjadi trauma mendalam seiring bertambahnya pemahaman emosional. Inilah sebabnya banyak penyintas baru berani bersuara setelah waktu berlalu cukup lama.
Melalui Broken Strings, Aurelie tak hanya membagikan kisah pribadi, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang pentingnya empati, edukasi, dan keberanian untuk mencari bantuan. Masyarakat pun diingatkan agar tidak menyalahkan korban dan segera melapor jika menemukan indikasi kekerasan seksual, demi memutus rantai manipulasi yang bisa berdampak panjang pada kesehatan mental korban. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : detikHealth














