People’s Party Unggul di Survei, Pemilu Thailand Diprediksi Sarat Gejolak

0
People’s Party
Ilustrasi bendera BANGKOK. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, BANGKOK – Di sudut-sudut kedai kopi Bangkok hingga riuh rendah media sosial, sebuah nama terus menggema: People’s Party. Partai oposisi progresif ini kini berdiri kokoh sebagai kekuatan yang paling diinginkan publik Thailand, menebar ancaman nyata bagi Perdana Menteri petahana, Anutin Charnvirakul, menjelang pemilu 8 Februari mendatang.

Dua hasil survei terbaru yang dirilis Minggu (11/1/2026) melukiskan potret kontras politik Negeri Gajah Putih. Di satu sisi, ada gairah perubahan yang diusung kaum muda; di sisi lain, ada upaya keras dari kubu konservatif untuk sekadar bertahan hidup di tengah badai politik dan konflik perbatasan dengan Kamboja.

Baca Juga :  Polisi Bubarkan Paksa Blokade Demo Pemilu di Seoul, Presiden Lee Desak Investigasi

Berdasarkan survei Suan Dusit (6–9 Januari), People’s Party memimpin telak dengan dukungan 34,2%. Angka ini terpaut jauh dari partai Bhumjaithai milik Anutin (16,2%) dan Pheu Thai (16,0%).

Angin segar juga berhembus bagi sosok Natthaphong Ruengpanyawut. Ketua People’s Party tersebut menjadi primadona untuk kursi perdana menteri.

“Natthaphong menjadi pilihan utama sebagai perdana menteri dengan dukungan 32% dari 2.682 responden,” tulis laporan Suan Dusit.

Senada dengan itu, survei NIDA juga menempatkan Natthaphong di posisi puncak (24,7%), melampaui Anutin (20,8%) dan kandidat Pheu Thai, Yodchanan Wongsawat (9,6%).

Baca Juga :  Resep Udang Saus Padang: Nikmati Kelezatan Bumbu Nendang yang Mudah Dibuat

Keunggulan People’s Party bukanlah fenomena baru, melainkan kelanjutan dari bara api yang ditinggalkan pendahulunya, Move Forward. Meski memenangkan pemilu 2023, Move Forward dijegal oleh barisan loyalis militer dan akhirnya dibubarkan oleh pengadilan.

Drama tersebut menjadi bagian dari siklus melelahkan di Thailand yang telah menyaksikan tiga perdana menteri dalam kurang dari tiga tahun. Kini, Anutin Charnvirakul yang baru menjabat kurang dari 100 hari, harus berjudi dengan mempercepat pemilu demi menghindari mosi tidak percaya di tengah parlemen yang bergejolak.

Baca Juga :  Wakil Bupati Bogor Tegaskan Komitmen Perjuangkan Aspirasi Warga Terkait Kebijakan Pertambangan

Nasib malang juga membayangi Pheu Thai, partai yang identik dengan dinasti Shinawatra. Setelah Paetongtarn Shinawatra diberhentikan pengadilan dan Thaksin Shinawatra mendekam di penjara pada September lalu, popularitas partai ini merosot ke posisi ketiga.

Kini, Thailand berada di persimpangan jalan. Antara janji reformasi berani yang diusung People’s Party atau kembalinya stabilitas kaku di bawah bayang-bayang militer. Dengan waktu kurang dari sebulan menuju bilik suara, rakyat Thailand nampaknya sudah mulai menentukan arah angin perubahan mereka sendiri.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber