
NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Samudera kini menjadi medan tempur baru bagi supremasi ekonomi Amerika Serikat. Di bawah perintah langsung dari Washington, militer dan Penjaga Pantai AS dilaporkan tengah memburu lusinan kapal tanker yang terlibat dalam perdagangan minyak Venezuela. Langkah agresif ini menandai babak paling ekstrem dari kendali AS atas sumber daya energi di Amerika Selatan.
Dalam beberapa pekan terakhir, suasana di perairan internasional kian mencekam. Mengutip Reuters, Selasa (13/1/2026), setidaknya lima kapal besar telah dicegat dan disita oleh pasukan AS. Kapal-kapal tersebut terdeteksi membawa minyak Venezuela atau memiliki rekam jejak dalam jaringan distribusi “emas hitam” negara tersebut.
Penyitaan ini bukan sekadar urusan dagang, melainkan kelanjutan dari manuver politik Washington untuk meruntuhkan rezim Nicolas Maduro yang puncaknya ditandai dengan penangkapan Maduro oleh pasukan AS pada 3 Januari lalu. Kini, pemerintahan Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan rencana untuk menguasai sumber daya minyak Venezuela tanpa batas waktu.
Target utama dalam perburuan ini adalah “armada bayangan” (shadow fleet), kelompok kapal misterius yang kerap menyamarkan identitas dan asal-usul kargo mereka untuk mengalirkan minyak dari negara-negara yang terkena sanksi seperti Iran, Rusia, dan Venezuela.
Melalui gugatan penyitaan sipil di pengadilan distrik Washington, D.C., pemerintah AS kini memiliki dasar hukum untuk menyita tidak hanya kargo minyaknya, tetapi juga fisik kapalnya sebuah eskalasi yang jauh lebih serius dibandingkan periode 2020-2023.
Meski Departemen Kehakiman masih bungkam, Jaksa Agung AS Pam Bondi memberikan sinyal bahwa daftar buruan masih panjang. Ia menyatakan bahwa pihaknya terus memantau kapal-kapal lain yang terindikasi melanggar untuk tindakan penegakan hukum serupa.
Eskalasi mencapai titik didih pada 7 Januari lalu saat militer AS menyita tanker Bella-1. Kapal ini bukan sekadar pengangkut minyak biasa; ia berbendera Rusia. Ini merupakan preseden bersejarah di mana militer AS berani menyita kapal milik Moskow di perairan internasional.
Pihak Rusia berang. Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam tindakan tersebut sebagai “penggunaan kekuatan ilegal” yang tidak memiliki dasar hukum kuat. Namun, gertakan Moskow tampaknya tidak menyurutkan nyali Pentagon.
“Kami akan memburu dan menghentikan SEMUA kapal armada gelap yang mengangkut minyak Venezuela pada waktu dan tempat yang kami pilih,” tegas juru bicara Pentagon, Sean Parnell.
Blokade yang diberlakukan Trump sejak Desember lalu sempat melumpuhkan ekspor minyak Venezuela secara total. Meski pekan ini pengiriman mulai bergerak, setiap kapal yang melintas kini berada di bawah moncong pengawasan AS.
Nilai ekonomi di balik penyitaan ini sangatlah fantastis. Dengan asumsi harga minyak mentah US$75 (Rp1,17 juta) per barel, satu kapal tanker yang membawa 1 juta barel memiliki nilai aset mencapai US$75 juta atau sekitar Rp1,17 triliun.
Langkah AS yang kini menyita fisik kapal beserta kargonya dianggap sebagai pesan keras kepada dunia: tidak ada lagi tempat bersembunyi bagi mereka yang mencoba menembus blokade ekonomi Washington di bumi Venezuela.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













