
NARASITODAY.COM, NUUK – Hamparan es yang sunyi, ketenangan warga Greenland kini terusik oleh ambisi politik dari seberang Samudra Atlantik. Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, mengeluarkan peringatan keras pada Senin (2/2/2026), menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) masih terus berupaya mencari celah untuk menguasai wilayah otonom tersebut.
Meski Presiden Donald Trump tidak lagi melontarkan ancaman kekuatan militer secara terang-terangan, Nielsen menegaskan bahwa niat dasar Washington untuk mengendalikan Greenland tetap tidak berubah.
Isu kedaulatan ini bukan sekadar retorika di meja diplomasi, melainkan telah masuk ke dalam ruang keluarga penduduk lokal. Nielsen mengungkapkan dalam pidatonya di parlemen (Inatsisartut) bahwa tekanan politik ini telah memicu krisis kesehatan mental di tengah masyarakat.
“Sebagian warga mengalami gangguan tidur berat, anak-anak merasakan khawatir dan cemas, dan kita semua hidup dalam ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi besok,” ujar Nielsen di Nuuk, sebagaimana dikutip dari CNA.
Nielsen menambahkan bahwa kondisi ini merupakan tekanan luar biasa bagi rakyatnya. “Kami ingin menyatakan dengan sangat jelas ini sama sekali tidak dapat diterima,” tegasnya.
Ambisi Trump yang didasari alasan keamanan nasional terhadap pengaruh Rusia dan China di Arktik, membentur tembok kokoh identitas masyarakat adat Inuit. Bagi warga asli Greenland, konsep “pembelian” tanah yang sering didengungkan Trump adalah sesuatu yang asing secara budaya.
Hukum di Greenland mencerminkan filosofi Inuit yang luhur siapa pun boleh memiliki rumah, namun tanah di bawahnya tetap milik bersama dan tidak bisa diperjualbelikan. Bagi mereka, tanah bukan sekadar komoditas, melainkan warisan yang dikelola secara kolektif.
Merespons tekanan AS, perundingan diplomatik tingkat tinggi antara AS, Denmark, dan Greenland telah dimulai pekan lalu. Tujuannya hanya satu, mencari jalan tengah untuk meredam kekhawatiran keamanan AS tanpa melanggar “garis merah” kedaulatan Kerajaan Denmark.
Dalam pidatonya, Nielsen menyampaikan apresiasi mendalam kepada Denmark sebagai mitra setia. Ia menegaskan kembali posisi rakyatnya jika harus dipaksa memilih.
“Cara pandang (Trump) terhadap Greenland dan penduduknya tetap sama: Greenland ingin dihubungkan dengan Amerika Serikat dan dikelola dari sana,” ujar Nielsen. Namun, ia sebelumnya menyatakan bahwa jika pilihan harus diambil, rakyat Greenland secara bulat akan tetap memilih Denmark.
Meskipun Trump mengeklaim telah mendapatkan akses penuh melalui kesepakatan NATO, rincian janji tersebut masih gelap bagi publik. Sementara itu, negara-negara Eropa anggota NATO mulai bersuara, memperingatkan bahwa tekanan AS yang terus-menerus terhadap kedaulatan Denmark hanya akan meretakkan persatuan internal aliansi tersebut di kutub utara.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com












