NARASITODAY.COM, BEIRUT – Langit Lebanon Selatan kembali diwarnai kepulan asap hitam pada Senin (2/2/2026). Meski kesepakatan gencatan senjata tahun 2024 masih berdiri di atas kertas, realita di lapangan menunjukkan hal yang kontras. Militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara ke sejumlah desa, mengklaim tengah menghancurkan infrastruktur milik kelompok Hizbullah.
Serangan ini terjadi di tengah upaya sensitif militer Lebanon untuk melucuti senjata kelompok tersebut, menciptakan situasi paradoks antara diplomasi perdamaian dan dentuman mesiu.
Ketegangan memuncak saat militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi mendadak bagi warga di desa Kfar Tibnit dan Ain Qana. Tak lama kemudian, gedung-gedung yang dituduh sebagai sarang logistik hancur dihantam rudal. Israel bersikeras bahwa target mereka bukan warga sipil, melainkan fasilitas militer yang disembunyikan.
“Kami menyerang beberapa fasilitas penyimpanan senjata Hizbullah di Lebanon selatan untuk mencegah upaya pembangunan kembali,” ujar pihak militer Israel, seperti dikutip dari The New Arab.
Israel menuding Hizbullah sengaja beroperasi di tengah kawasan sipil. Namun, Hizbullah dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Di sisi lain, Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa serangan Israel juga menyasar kendaraan di dekat lokasi tanpa peringatan apa pun, menambah daftar panjang korban luka dan jiwa.
Bagi penduduk di Ansariyeh dan Qleileh, Senin pagi bukanlah awal minggu yang tenang. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat satu orang tewas dan delapan lainnya luka-luka akibat serangan di dua titik tersebut.
Berdasarkan catatan AFP, kekerasan ini bukanlah insiden tunggal. Sejak gencatan senjata diberlakukan tahun lalu, lebih dari 360 nyawa telah melayang di Lebanon akibat tembakan Israel sebuah angka yang mempertanyakan efektivitas perdamaian di wilayah tersebut.
Di balik desing peluru, terjadi tarik-ulur kekuatan militer yang rumit. Militer Lebanon mengklaim telah menyelesaikan tahap awal rencana pelucutan senjata Hizbullah di wilayah selatan Sungai Litani. Namun, Israel menilai langkah itu belum cukup dan menuduh Hizbullah terus mempersenjatai diri secara diam-diam.
Pekan ini, Panglima Militer Lebanon dijadwalkan terbang ke Washington untuk memaparkan perkembangan misi tersebut. Jenderal Rodolphe Haykal menegaskan bahwa upaya militer Lebanon sebenarnya terus berjalan, namun tindakan Israel menjadi penghalang utama.
“Misi itu akan berlanjut, tetapi pendudukan dan serangan Israel yang berkelanjutan di wilayah selatan menghambat kerja militer Lebanon,” tegas Jenderal Haykal.
Beirut kini terus melayangkan protes keras, menuntut Israel menghentikan pendudukan atas lima titik perbukitan strategis yang dinilai sebagai pelanggaran kedaulatan. Di tengah gencatan senjata yang kian rapuh, warga Lebanon Selatan kini hidup dalam ketidakpastian. apakah mereka sedang menuju perdamaian sejati atau sekadar menunggu perang besar berikutnya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














