Peter Pan Syndrome yang Dialami Onadio Leonardo, Begini Kata Psikiater

0
Onad. Foto: dok Instagram

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Musisi Tanah Air, Onadio Leonardo, mengungkapkan bahwa dirinya mengalami Peter Pan Syndrome. Pengakuan tersebut muncul saat Onad menjalani sesi konsultasi kesehatan mental di masa rehabilitasi akibat kasus penyalahgunaan narkoba.

Pria yang akrab disapa Onad itu menjelaskan, kondisi tersebut membuat kondisi mentalnya seolah berhenti di usia 20-an. Ia menganggap fase itu sebagai masa terbaik dalam hidupnya, sehingga sulit melepaskan diri dan melangkah ke tahap kehidupan berikutnya.

Baca Juga :  Kotoran Telinga Berdarah? Kenali 5 Penyebab Utamanya dan Cara Mengatasinya

Lantas, seperti apa sebenarnya penjelasan Peter Pan Syndrome menurut sudut pandang medis?

Arti Peter Pan Syndrome

Dokter spesialis kejiwaan dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ., menjelaskan bahwa Peter Pan Syndrome merupakan istilah psikologis untuk menggambarkan individu dewasa yang secara emosi dan perilaku belum menunjukkan kedewasaan layaknya orang seusianya.

Orang dengan kondisi ini umumnya kesulitan menjalani tanggung jawab sebagai orang dewasa, seperti berkomitmen, mandiri, dan mengambil keputusan penting dalam hidup.

Baca Juga :  Dukungan Tanpa Menghakimi 5 Kunci Membantu Korban Keluar dari Hubungan Manipulatif

“Perlu dipahami, Peter Pan Syndrome tidak tercantum dalam pedoman diagnosis resmi seperti DSM-5 maupun PPDGJ 3, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai gangguan mental secara klinis,” jelas dr. Lahargo, dikutip dari detikcom.

Ia menambahkan, ada tiga faktor utama yang kerap memicu kondisi ini, yakni pola asuh, faktor psikologis, dan lingkungan. Pola pengasuhan yang terlalu protektif, misalnya, bisa membuat anak kurang terlatih menghadapi tanggung jawab karena orang tua selalu turun tangan menyelesaikan masalahnya.

Baca Juga :  5 Bahaya Migrain yang Perlu Diketahui untuk Cegah Komplikasi

Dari sisi psikologis, individu dengan Peter Pan Syndrome kerap diliputi rasa cemas, takut gagal, serta merasa belum siap menghadapi tuntutan kehidupan dewasa. Ketidaknyamanan ini membuat mereka cenderung menghindari situasi yang dianggap menekan secara emosional.

Selain itu, lingkungan sosial dan budaya yang menjunjung kebebasan, kesenangan, serta citra awet muda juga dapat mendorong seseorang menunda peran dan tanggung jawab sebagai orang dewasa. (MG5)

Editor : Nathania

Sumber : insertlive.com