NARASITODAY.COM, JAKARTA – Kasus bunuh diri pada anak kembali mengundang keprihatinan banyak pihak. Di balik peristiwa yang tampak sederhana di permukaan, para ahli menegaskan bahwa keputusan ekstrem seperti ini hampir selalu lahir dari proses panjang yang kompleks, bukan dari satu pemicu semata.
Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, menekankan bahwa anak-anak memiliki dunia emosi yang jauh lebih rapuh dibandingkan orang dewasa. Apa yang terlihat sepele bagi orang tua atau lingkungan sekitar, bisa jadi terasa sangat berat bagi anak, terlebih jika masalah tersebut menumpuk tanpa ruang aman untuk bercerita.
Menurutnya, media sosial kerap disorot sebagai faktor pemicu, namun perannya tidak bisa dilihat secara terpisah. Literasi digital, pendampingan orang tua, serta hubungan emosional di dalam keluarga memegang peranan besar dalam membentuk cara anak memaknai apa yang mereka lihat dan alami.
Dalam banyak kasus, tekanan yang dialami anak bersifat akumulatif. Mulai dari perasaan tidak didengar, perundungan di lingkungan sekolah, hingga rasa bersalah karena merasa menjadi beban keluarga. Ketika emosi-emosi ini tidak tersalurkan dengan baik, anak bisa terjebak dalam perasaan putus asa yang mendalam.
Psikolog juga menyoroti pentingnya cara orang tua berkomunikasi dengan anak, terutama saat menghadapi keterbatasan. Penolakan terhadap keinginan anak, jika disampaikan dengan emosi berlebihan, berisiko membuat anak merasa tidak berharga atau tidak dicintai.
Kasus-kasus seperti ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental anak sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Anak membutuhkan ruang aman untuk didengar, dipahami, dan diyakinkan bahwa perasaan mereka valid. Pencegahan bunuh diri pada anak bukan hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga sekolah, lingkungan sosial, dan masyarakat secara luas. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : detikHealth













