Dinkes Sumut Tingkatkan Waspada Virus Nipah, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat

0
virus Nipah
Ilustrasi Tabung sampel darah positif dengan tes virus Nipah.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, MEDAN – Sumatera Utara kini berada dalam mode siaga tinggi. Menyusul terbitnya Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.02.02/C/445/2026, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara (Dinkes Sumut) resmi meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Virus Nipah, penyakit mematikan yang dibawa oleh kelelawar buah.

Langkah ini bukan sekadar formalitas birokrasi. Di tengah populasi kelelawar dan ternak babi yang cukup signifikan di wilayah ini termasuk tradisi konsumsi di daerah seperti Pancurbatu Dinkes Sumut mulai memperkuat benteng pertahanan di rumah sakit hingga pintu masuk internasional.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumut, Novita Saragih, menegaskan bahwa sistem deteksi dini kini telah diaktifkan di seluruh kabupaten dan kota. Petugas kesehatan diminta bergerak secepat kilat jika menemukan indikasi klinis yang mencurigakan.

Baca Juga :  Organisasi Kesehatan Dunia Waspadai Penularan Hantavirus dari Kapal Pesiar Mewah yang Bikin Geger Dunia Kesehatan

“Setelah adanya surat edaran dari Kemenkes, kabupaten/kota, rumah sakit, dan fasilitas pelayanan kesehatan terus kami dampingi dalam deteksi dini dan kewaspadaan terhadap Virus Nipah. Apabila ditemukan sindrom yang mengarah ke Nipah, harus segera dilakukan respons kurang dari 24 jam,” ujar Novita, Minggu (8/2/2026).

Kesigapan ini krusial mengingat Virus Nipah bukan lawan sembarangan. Dengan tingkat fatalitas yang mencapai 40 hingga 75 persen, virus ini dapat memicu infeksi pernapasan hingga radang otak (ensefalitis) berat.

Mengingat sifatnya sebagai penyakit zoonotik (menular dari hewan ke manusia), Novita menekankan bahwa sektor kesehatan tidak bisa bekerja sendiri. Kerja sama melibatkan BBKK Medan, Dinas Peternakan, hingga Polda Sumut untuk memantau titik-titik rawan.

Baca Juga :  Musim Hujan Tiba! Berikut 5 Tips Jaga Kesehatan Menjelang Perayaan Nataru

“Kami mengantisipasi potensi penularan yang bersumber dari hewan, khususnya kelelawar dan babi, baik sebagai hewan peliharaan maupun yang dikonsumsi manusia,” jelas Novita.

Bagi mereka yang kerap bepergian, pengawasan di bandara dan pelabuhan kini semakin diperketat oleh Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Medan.

“Jika ditemukan penumpang dengan kondisi kesehatan mencurigakan, akan dilakukan pemeriksaan dan pengawasan lanjutan serta koordinasi dengan dinas kesehatan provinsi maupun kabupaten/kota,” tambahnya.

Selain pengawasan medis, masyarakat juga diminta mengubah kebiasaan kecil yang berisiko tinggi. Dinkes Sumut mengeluarkan panduan praktis: mulai dari tidak meminum air nira langsung dari pohon hingga menghindari buah-buahan yang tampak memiliki bekas gigitan hewan liar.

Baca Juga :  HMPV vs Flu: 5 Gejala yang Sering Disalahartikan, Ketahui Sekarang!

Novita juga mengingatkan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai pelindung utama.

“Kami mengingatkan masyarakat untuk memastikan semua makanan dikonsumsi dalam kondisi benar-benar matang, menggunakan masker saat sakit, serta menghindari kerumunan,” katanya.

Menutup keterangannya, Novita optimistis bahwa sinergi antara pemerintah dan kedisiplinan warga akan menjadi kunci. “Dengan kewaspadaan bersama, koordinasi lintas sektor, dan peran aktif masyarakat, kami berharap potensi penularan Virus Nipah dapat dicegah sejak dini,” pungkasnya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com