CUCURAK KEARIFAN LOKAL YANG BISA MENGURANGI PEMANASAN GLOBAL

0
Heru B Setyawan
Heru B Setyawan

Oleh : Heru B Setyawan (Guru Pendidikan Pancasila SMAIT BBS)

BULAN Ramadan menjadi waktu yang dinanti seluruh umat muslim. Suka cita dalam menyambut bulan suci itu tergambar dalam bentuk  tradisi yang dilakukan masyarakat. Di Bogor, tradisi Cucurak menjadi bagian tak terpisahkan dalam menyambut ramadan.

Tradisi itu terus dipertahankan oleh masyarakatnya hingga saat ini. Cucurak atau curak-curak (Bahasa Sunda) memiliki arti bersenang-senang. Dalam tradisinya, cucurak dilakukan dengan berkumpul bersama keluarga besar atau kolega. Tradisi cucurak dengan makan bersama nasi liwet di atas daun pisang merupakan budaya khas masyarakat Sunda, khususnya di Bogor, dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Baca Juga :  Dishub Kabupaten Bogor Tertibkan Parkir di Sekitar Simpang Cibinong, Dukung Kelancaran Lalu Lintas

Tradisi ini mempererat tali silaturahmi dengan menyajikan nasi liwet, tahu, tempe, telur, ayam, sambal ikan asin, dan lalapan, dimakan secara lesehan di atas pelapah daun pisang. Nasi liwet sendiri dimasak menggunakan rempah dan santan, mencerminkan kesederhanaan serta kedekatan dengan hasil pertanian lokal.

Penggunaan daun pisang sebagai alas makan menjadi salah satu keunikan dalam tradisi ini. Selain menambah kenikmatan makan melalui aroma khas dari daun pisang yang terkena nasi panas, penggunaannya juga bertujuan mengurangi limbah dari piring plastik atau kertas sekali pakai. Ini memberikan pembelajaran langsung tentang pentingnya menjaga lingkungan dengan memanfaatkan bahan alami dan lokal.

Baca Juga :  BRI Unit Cibinong Branch Office Cibinong Fasilitasi UMKM dengan Edukasi Digital Perbankan

Dari sisi keberlanjutan lingkungan, tradisi cucurak berkontribusi pada pengurangan jejak karbon dengan meminimalisir penggunaan alat makan sekali pakai dan memilih bahan makanan lokal.

Dengan demikian, pelaksanaan tradisi cucurak tidak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga menjadi keterampilan nyata dalam pengolahan makanan tradisional, memahami nilai budaya, serta menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.  Serta terjalin silaturahmi diantara keluarga besar, teman kantor, teman komunitas, teman sekolah dan lain-lain.

Baca Juga :  Maknai Isra Mi'raj, DWP Kabupaten Bogor dan Pemkab Bogor Gelar Peringatan Bersama

Sehingga tradisi cucurak yang merupakan kearifan lokal Suku Bangsa Sunda bisa juga mengurangi pemanasan global.  Pemanasan global adalah peristiwa kenaikan suhu rata-rata daratan, lautan dan atmosfer bumi secara bertahap. Maka pertahankan dan lestarikan cucurak ini. Jayalah Indonesiaku.***

Editor : Alysa