India Pertegas Larangan E-Cigarette, Tolak Lobi Philip Morris

0
India
Ilustrasi bendera india. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, NEW DELHI – Gemerlap forum ekonomi dunia hingga ruang-ruang tertutup di New Delhi, sebuah pertempuran lobi selama empat tahun akhirnya menemui jalan buntu. Pemerintah India secara tegas menyatakan tidak akan melonggarkan larangan e-cigarette dan produk tembakau panas (heat-not-burn), memupus ambisi besar raksasa tembakau Philip Morris International (PMI) untuk menguasai pasar rokok terbesar ketujuh di dunia tersebut.

Bagi India, ini bukan sekadar urusan dagang, melainkan pertaruhan nyawa. Dengan konsumsi lebih dari 100 miliar batang rokok per tahun dan angka kematian akibat tembakau yang mencapai satu juta jiwa per tahun, New Delhi memilih untuk tetap menutup pintu bagi inovasi perangkat seperti IQOS.

Penelusuran Reuters mengungkap gerakan bawah tanah yang sistematis. Sejak 2021 hingga 2025, Philip Morris secara gerilya melobi pejabat tinggi hingga panel parlemen India. Mereka menyodorkan “sains” di balik perangkat IQOS dan meminta agar produk tersebut dikecualikan dari larangan yang berlaku sejak 2019.

Baca Juga :  Program “Go to School” DP3AP2KB Bogor Ciptakan Sekolah Ramah Anak Bebas Bullying

Bahkan, jejak digital di LinkedIn menunjukkan para eksekutif PMI sempat bertemu dengan pejabat negara bagian di Davos pada Januari lalu untuk membicarakan “nilai jangka panjang” industri tembakau. Namun, Kementerian Kesehatan India tetap bergeming.

“Kementerian Kesehatan India tidak mempertimbangkan pencabutan, perubahan, atau pelonggaran larangan ini,” tegas kementerian tersebut menanggapi pertanyaan Reuters.

India tetap berkomitmen pada pengendalian tembakau berbasis bukti dan langkah-langkah penghentian konsumsi tembakau.”

Philip Morris mencoba menggunakan narasi kesehatan masyarakat sebagai pintu masuk. Dalam salah satu surat rahasia tahun 2023, Ankur Modi, yang saat itu menjabat sebagai Chief Strategy Officer, mengibaratkan produk ini sebagai alat “pengurangan risiko” layaknya promosi kondom dalam penanggulangan HIV/AIDS.

Baca Juga :  Pemkab Bogor dan Bea Cukai Jabar Musnahkan 1,8 Juta Batang Rokok Ilegal, Selamatkan Kerugian Negara Rp1,4 Miliar

CEO Philip Morris, Jacek Olczak, pun melontarkan kritik pedas terhadap ketidakkonsistenan pasar di India. Baginya, adalah sebuah anomali ketika alternatif yang diklaim lebih aman justru dilarang, sementara rokok konvensional tetap melenggang bebas di pasaran.

“Tidak logis pasar ditutup untuk alternatif merokok seperti tembakau panas dan vape, tetapi tetap terbuka untuk rokok konvensional,” ujar Olczak dalam wawancara Jumat lalu.

Ia menilai keputusan India mengabaikan data global yang menunjukkan penurunan tingkat merokok ketika produk alternatif tersedia. Namun, suara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang memperingatkan risiko tembakau panas tampaknya jauh lebih didengar oleh otoritas India ketimbang data internal perusahaan.

Baca Juga :  5 Faktor Penyebab Diare dan Muntah Bersamaan: Apa yang Harus Diperhatikan?

Ketegasan India merupakan pukulan telak bagi pertumbuhan PMI. Analis Jefferies, Andrei Andon-Ionita, mencatat bahwa India adalah “tahap pertumbuhan berikutnya” yang krusial bagi IQOS di saat pasar utama lainnya mulai jenuh. Terlebih, pangsa pasar rokok PMI di India telah melonjak dari 1,75% pada 2019 menjadi 7,6% pada 2024.

Meski PMI sempat meminta agar Indian Council of Medical Research (ICMR) melakukan tinjauan ilmiah, lembaga tersebut memberikan jawaban singkat yang menutup segala spekulasi. ICMR menegaskan kepada Reuters bahwa pihaknya “tidak mempertimbangkan atau melakukan penelitian apapun mengenai produk tembakau panas.”

Dengan pernyataan ini, India menegaskan bahwa bagi mereka, cara terbaik untuk menghentikan konsumsi tembakau adalah dengan pengetatan, bukan dengan menawarkan “versi lain” dari produk tembakau itu sendiri.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber