Polisi Kanada Ungkap Identitas Pelaku Penembakan di Sekolah di Tumbler Ridge

0
Kanada
Ilustrasi bendera Kanada di depan gedung.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TUMBLER RIDGE – Senyapnya Tumbler Ridge, sebuah kota tambang terpencil di British Columbia yang biasanya hanya riuh oleh suara mesin industri, mendadak pecah oleh dentuman senjata api. Tragedi berdarah yang pecah pada Selasa (10/2/2026) itu menyisakan duka kolektif bagi 2.400 penduduknya setelah sembilan nyawa melayang dalam aksi penembakan massal yang memilukan.

Polisi Kerajaan Kanada (RCMP) kini mengungkap sosok di balik tragedi tersebut. yaitu,  Jesse Van Rootselaar, seorang pemuda transgender berusia 18 tahun. Van Rootselaar mengakhiri hidupnya sendiri setelah melakukan aksi brutal yang bermula dari rumah keluarganya hingga ke lorong-lorong sekolah menengah pertama setempat.

Aksi mematikan ini dimulai di kediaman pelaku, di mana ia menembak mati ibu kandungnya (39) dan saudara tirinya yang masih berusia 11 tahun. Tanpa henti, ia kemudian menuju sekolah lamanya dan melepaskan tembakan yang menewaskan seorang guru perempuan (39) serta lima siswa berusia antara 12 hingga 13 tahun.

Baca Juga :  Diskominfo Sosialisasikan Audit dan Clearance Belanja TIK Demi Efisiensi Pelayanan Publik Digital

Wakil Komisaris RCMP, Dwayne McDonald, mengungkapkan bahwa sejarah kelam kesehatan mental telah lama membayangi tersangka. Van Rootselaar, yang lahir sebagai laki-laki dan mulai mengidentifikasi diri sebagai perempuan sejak enam tahun lalu, tercatat pernah beberapa kali berurusan dengan polisi terkait penilaian medis di bawah Undang-Undang Kesehatan Mental.

“Polisi telah beberapa kali mengunjungi kediaman keluarga tersebut selama beberapa tahun terakhir untuk menangani masalah kesehatan mental yang berkaitan dengan tersangka,” kata Dwayne McDonald dalam konferensi pers, Rabu (11/2/2026).

Meskipun senjata api sempat disita dari rumah tersebut dua tahun lalu, senjata itu dikembalikan setelah pemiliknya memenangkan banding. Polisi menemukan satu laras panjang dan pistol modifikasi di lokasi kejadian, sementara izin kepemilikan senjata milik pelaku diketahui telah kedaluwarsa sejak 2024.

Baca Juga :  Langkah-langkah Membuat Spicy Galbijjim: Resep Daging Pendek Pedas yang Wajib Dicoba

Tragedi ini menjadi salah satu penembakan paling mematikan dalam sejarah Kanada, sebuah negara yang dikenal memiliki kontrol senjata yang ketat. Di Ottawa, Perdana Menteri Mark Carney tampak emosional saat menyampaikan pidatonya di hadapan parlemen, bahkan hingga membatalkan agenda kunjungan luar negerinya.

“Apa yang terjadi telah membuat bangsa kita terkejut dan kita semua berduka,” ujar Carney dengan suara bergetar.

Ucapan duka juga datang dari Raja Charles sebagai kepala negara, yang menyatakan dirinya “sangat terkejut dan sedih”. Sementara itu, bendera di seluruh negeri diperintahkan berkibar setengah tiang selama tujuh hari ke depan sebagai tanda berkabung nasional.

Baca Juga :  Hari Pers Nasional 2025, DPRD Kabupaten Bogor Sastra Winara Harap Pers Bersinergi dalam Menyampaikan Informasi Berkualitas

Bagi warga Tumbler Ridge, insiden ini bukan sekadar statistik kriminal, melainkan luka di jantung keluarga besar mereka. Wali Kota Darryl Krakowka menggambarkan keintiman kota tersebut sebagai kekuatan yang kini sedang diuji hebat.

“Hampir semua orang di sini saling mengenal dan kami adalah satu keluarga besar,” kata Krakowka.

Hingga saat ini, motif pasti di balik aksi nekat tersebut masih menjadi misteri. Pihak kepolisian menyatakan bahwa tidak ada indikasi korban dipilih secara spesifik, namun penyelidikan intensif terus dilakukan untuk merangkai kepingan peristiwa yang menghancurkan kedamaian di kota tambang tersebut.

“Kami percaya tersangka bertindak sendirian. Saat ini masih terlalu dini untuk berspekulasi mengenai motif,” tutup McDonald.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com