Bentrokan di Shabwa, Lima Tewas dan Puluhan Luka-Luka

0
Shabwa
Mencekam di Ataq, Provinsi Shabwa. Aksi massa pendukung Dewan Transisi Selatan (STC) berujung bentrokan berdarah dengan pasukan keamanan lokal, Rabu (11/2/2026).Foto : REUTERS/Fawaz Salman

NARASITODAY.COM, ATAQ – Kota Ataq di Provinsi Shabwa berubah mencekam pada Rabu (11/2/2026). Apa yang dimulai sebagai aksi protes massa pendukung Dewan Transisi Selatan (STC) berakhir menjadi genangan darah ketika bentrokan pecah dengan pasukan keamanan lokal. Sedikitnya lima orang dilaporkan tewas dan lebih dari dua lusin lainnya luka-luka dalam insiden yang mengguncang stabilitas Yaman Selatan tersebut.

Menteri Urusan Hukum Yaman, Eshraq al-Maqtari, menggambarkan duka yang mendalam atas peristiwa ini. Melalui unggahan di media sosial X, ia menyebut wilayah Shabwa tengah melewati momen yang memilukan bagi kemanusiaan.

“Harapan bertumpu pada para pemimpin, elit, pemuda, dan perempuan Shabwa untuk menyelesaikan ketegangan ini, di mana satu-satunya pihak yang dirugikan adalah nyawa, keselamatan, dan keamanan warganya. Kepentingan Shabwa harus diprioritaskan di atas semua kepentingan sempit,” tegas al-Maqtari.

Baca Juga :  Rudy Susmanto Bangga Kabupaten Bogor Jadi Lokasi Latihan Bersama Tiga Matra TNI

Pemicu di Gedung Otoritas

Menurut saksi mata di lokasi, Khaled al-Merfedi dan Salem Lahtal, bara api mulai tersulut saat massa pendukung kelompok separatis mencoba menyerbu gedung otoritas administratif lokal di Ataq. Dalam suasana yang riuh, massa dilaporkan berupaya menurunkan bendera nasional Yaman sebuah simbol kedaulatan yang ditentang oleh mereka yang menginginkan kemerdekaan Yaman Selatan.

Respon cepat segera diambil oleh pasukan keamanan setempat. Mereka bergerak untuk mengambil alih kendali gedung, mengamankan area, dan menyisir wilayah sekitar guna memadamkan eskalasi yang lebih besar.

Tuduhan Kekerasan Berlebihan

Di sisi lain, pihak STC cabang Shabwa merilis pernyataan keras terkait jatuhnya korban jiwa di pihak mereka. Mereka menggambarkan situasi di lapangan tidak ubahnya seperti medan perang, di mana kendaraan lapis baja mengepung lokasi protes.

Baca Juga :  Mendikdasmen Laporkan Konsep Baru PPDB ke Presiden Prabowo

“Anggota pasukan keamanan dan militer yang mengenakan masker melepaskan tembakan ke arah demonstran,” tulis pernyataan resmi STC.

Pihak separatis menjelaskan bahwa saat pawai bergerak menuju Hotel al-Fakhama, pasukan keamanan mulai menembaki pengunjuk rasa secara langsung menggunakan senjata ringan hingga menengah. Mereka menuduh otoritas lokal menggunakan kekerasan yang berlebihan dan sengaja membongkar panggung protes sebelum aksi dimulai.

Benang Kusut Politik Yaman

Insiden ini hanyalah puncak gunung es dari perselisihan panjang di Yaman. Shabwa saat ini berada di bawah kendali Dewan Kepemimpinan Kepresidenan pimpinan Rashad al-Alimi. Ketegangan ini juga mencerminkan dinamika regional yang kompleks, mengingat kelompok separatis ini sempat melakukan manuver serupa di Hadramout dan al-Mahra pada Desember lalu.

Baca Juga :  Tangis di Tempat Wisata Air, Anak Perempuan Tewas Tenggelam di Bogor

Ironisnya, pertumpahan darah ini terjadi hanya sepekan setelah al-Alimi mengumumkan kabinet baru beranggotakan 35 orang. Di tengah upaya rekonsiliasi politik tersebut, suara tembakan di Ataq menjadi pengingat pahit bahwa perdamaian di tanah Yaman masih menjadi barang mewah yang sulit dijangkau.

Saat ini, pemimpin STC, Aidarous al-Zubaidi, dilaporkan masih berada di Abu Dhabi dengan status buron atas tuduhan pengkhianatan, sementara warga Shabwa kini harus kembali menguburkan korban dari konflik yang tak kunjung usai.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com