NARASITODAY.COM, JAKARTA – Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan nuansa merah dan gemerlap kembang api. Namun, tahukah kamu bahwa kedua simbol tersebut berasal dari sebuah legenda kuno?
Legenda Monster Nian
Konon pada masa Tiongkok kuno, hiduplah makhluk buas bernama Nian. Monster ini berkepala menyerupai singa dengan tanduk tajam yang mematikan. Ia tinggal di dasar laut dan hanya muncul pada malam terakhir pergantian tahun lunar untuk memangsa manusia serta hewan ternak.
Setiap menjelang malam itu, penduduk desa akan makan lebih awal, mengunci kandang ternak, lalu mengungsi ke pegunungan demi menghindari amukan Nian.
Suatu ketika, datang seorang kakek berambut putih ke sebuah desa. Ia berjanji akan mengusir Nian. Sayangnya, warga yang ketakutan tak percaya dan tetap melarikan diri sebelum malam tiba.
Mengutip kisah dari Confucius Institute for Scotland, saat Nian datang seperti biasa dan hendak menyerang, tiba-tiba terdengar ledakan petasan disertai cahaya api yang terang benderang. Monster itu gemetar ketakutan. Tak lama kemudian, sang kakek muncul mengenakan pakaian merah. Melihat hal tersebut, Nian langsung kabur.
Keesokan harinya, warga kembali dan mendapati desa mereka tetap aman. Mereka pun menyadari bahwa lelaki tua itu adalah makhluk surgawi yang datang untuk menolong. Ia meninggalkan tiga cara ampuh untuk mengusir Nian: warna merah, cahaya terang, dan suara petasan.
Sejak saat itu, setiap malam pergantian tahun lunar, masyarakat menghias rumah dengan ornamen merah, menggantung lampion, menyalakan lampu serta petasan, dan berjaga semalaman. Tradisi ini kemudian menyebar luas dan berkembang menjadi perayaan malam Tahun Baru Imlek seperti yang dikenal sekarang.
Sejarah Penetapan Tahun Baru Imlek
Perayaan Imlek diperkirakan telah berlangsung sekitar 3.500 tahun, meski tanggal pastinya tidak tercatat secara pasti.
Sebagian sejarawan meyakini tradisi ini telah ada sejak masa Dinasti Shang (1600–1046 SM), ketika masyarakat menggelar upacara persembahan kepada dewa dan leluhur pada awal atau akhir tahun.
Istilah “Nian” sendiri tercatat muncul pada masa Dinasti Zhou (1046–256 SM). Saat itu, ritual persembahan kepada leluhur dan doa untuk hasil panen yang baik menjadi bagian penting dalam pergantian tahun.
Kemudian, penetapan hari pertama bulan pertama dalam kalender lunar sebagai Festival Musim Semi dilakukan pada masa Dinasti Han (202 SM–220 M). Pada era ini pula muncul kebiasaan membakar bambu untuk menghasilkan suara letupan keras—cikal bakal tradisi petasan yang masih bertahan hingga kini.
Jadi, warna merah dan kembang api dalam perayaan Imlek bukan sekadar hiasan, melainkan simbol perlindungan dan harapan yang berakar dari legenda dan sejarah panjang masyarakat Tionghoa. (MG5)
Editor : Nathania
Sumber : detikedu













