Sejarah Kue Keranjang Khas Imlek, Begini Filosofi di Baliknya

0
ilustrasi kue keranjang khas perayaan Tahun Baru Imlek (vecteezy.com/ikarahma)

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Setiap perayaan Tahun Baru Imlek, kue keranjang hampir selalu hadir di meja rumah-rumah Tionghoa. Teksturnya kenyal, rasanya manis, dan aromanya khas. Namun, di balik kesederhanaannya, kue keranjang ternyata menyimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam yang lekat dengan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Kue keranjang dikenal dengan nama nian gao dalam bahasa Mandarin. Secara harfiah, kata nian berarti tahun, sedangkan gao berarti kue atau tinggi. Gabungan makna tersebut melambangkan harapan agar kehidupan di tahun yang baru terus meningkat, baik dari segi rezeki, kesehatan, maupun keberuntungan.

Baca Juga :  Fakta Unik Kilin, Barongsai Istimewa dan Makna di Baliknya

Dalam tradisi Tionghoa, kue keranjang biasanya disiapkan sekitar satu minggu sebelum Imlek. Kue ini lebih dulu dipersembahkan untuk keperluan sembahyang, sehingga belum boleh disantap. Barulah setelah Cap Go Meh, kue keranjang bisa dinikmati bersama keluarga, baik dimakan langsung maupun diolah kembali, seperti digoreng atau dikukus.

Salah satu kisah populer di balik kue keranjang berkaitan dengan Dewa Dapur. Konon, Dewa Dapur dipercaya selalu mengamati kehidupan sebuah keluarga dan melaporkannya kepada Kaisar Giok setiap akhir tahun. Untuk menghindari laporan buruk, masyarakat mempersembahkan kue keranjang yang lengket dan manis, dengan harapan mulut sang dewa “lengket” sehingga hanya menyampaikan hal-hal baik.

Baca Juga :  5 Fakta Bletchley Park, Tempat Lahirnya Revolusi Komputasi Modern

Selain itu, kue keranjang juga dikaitkan dengan legenda Wu Zixu, seorang jenderal dan tokoh penting pada masa Tiongkok kuno. Dalam cerita rakyat, kue berbahan dasar beras ketan ini menjadi simbol ketahanan hidup di masa sulit dan pengingat akan pengorbanan serta kebijaksanaan sang jenderal.

Baca Juga :  Resep Kue Nastar Mangkuk: Perpaduan Rasa dan Estetika dalam Setiap Gigitan

Seiring waktu, kue keranjang tak lagi sekadar sajian ritual, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan keluarga. Momen menikmati kue keranjang bersama orang-orang terdekat mencerminkan doa agar hubungan tetap erat dan kehidupan semakin manis di tahun yang baru.

Tak heran jika hingga kini, kue keranjang selalu identik dengan perayaan Imlek. Lebih dari sekadar kudapan, kue ini menjadi pengingat akan harapan, tradisi, dan filosofi hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. (MG3)

 

Editor : Mutiara

Sumber : idntimes.com