NARASITODAY.COM, JAKARTA – Sahur kerap menjadi momen paling menantang selama Ramadan. Waktu yang singkat, tubuh yang masih ingin beristirahat, dan kebutuhan makan cepat membuat banyak orang menjatuhkan pilihan pada mi instan. Praktis, mudah dibuat, dan rasanya sudah familiar di lidah.
Di awal, mi instan memang terasa mengenyangkan. Namun, tak sedikit yang justru mengeluh lapar atau haus berlebihan hanya beberapa jam setelah imsak. Hal ini pun memunculkan pertanyaan, apakah mi instan memang kurang cocok untuk sahur, atau sekadar kebetulan?
Jika dilihat dari komposisi gizinya, mi instan didominasi karbohidrat olahan dan relatif rendah serat. Karbohidrat jenis ini lebih cepat dicerna tubuh, sehingga lonjakan energi yang dihasilkan juga cenderung singkat. Setelah kadar gula darah naik dengan cepat, penurunannya pun bisa terjadi lebih cepat, yang akhirnya memicu rasa lapar lebih dini.
Selain itu, mi instan yang melalui proses penggorengan mengandung lemak tambahan. Kombinasi karbohidrat olahan dan lemak membuat kalori cukup tinggi, tetapi tidak selalu sebanding dengan rasa kenyang yang bertahan lama. Jika dikonsumsi terlalu sering, pola makan seperti ini berpotensi mengganggu pengaturan energi dan berat badan selama puasa.
Kandungan natrium dalam mi instan juga patut diperhatikan. Natrium yang tinggi dapat meningkatkan rasa haus, terutama saat tubuh tidak mendapat asupan cairan dalam waktu lama. Dalam kondisi puasa, hal ini bisa membuat tenggorokan terasa kering dan keinginan minum muncul lebih cepat.
Meski begitu, bukan berarti mi instan sepenuhnya harus dihindari saat sahur. Jika sesekali dikonsumsi, mi instan masih bisa diolah agar lebih seimbang, misalnya dengan mengurangi bumbu, menambahkan sumber protein seperti telur atau ayam, serta memperbanyak sayuran untuk menambah serat.
Pada akhirnya, sahur ideal adalah yang mampu menjaga energi tetap stabil sepanjang hari. Kombinasi karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, dan serat akan membantu tubuh bertahan lebih lama tanpa rasa lapar atau haus berlebihan. Mi instan boleh saja jadi pilihan darurat, asalkan tidak dijadikan menu utama setiap hari selama Ramadan. (MG3)














