
NARASITODAY.COM, JAKARTA — Bulan Ramadan tak hanya menjadi momen meningkatkan ibadah, tetapi juga membawa dampak positif bagi kesehatan mental. Kementerian Kesehatan menyebut puasa dapat membantu membangun keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa, terutama di tengah tekanan hidup modern yang semakin kompleks.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan puasa bisa menjadi ruang refleksi sekaligus pemulihan mental jika dijalani dengan cara yang tepat. Beberapa hal seperti menetapkan tujuan spiritual, melatih mindfulness, menjaga pola hidup sehat, hingga berbagi cerita dengan komunitas disebut dapat memperkuat dampak positif puasa.
Ramadan juga kerap menjadi waktu bagi banyak orang untuk memperbaiki diri. Meski angka gangguan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi masih tergolong tinggi, sejumlah penelitian menunjukkan adanya perbaikan kondisi psikologis selama bulan puasa.
Salah satunya penelitian di MAN 2 Kota Cilegon pada 2019 yang mencatat puasa berkontribusi besar terhadap peningkatan kesehatan mental siswa. Studi tersebut menyoroti kemampuan pengendalian diri dan regulasi emosi yang lebih baik selama Ramadan. Temuan serupa juga datang dari penelitian Universitas Sirjan Azad yang menyebut puasa membantu individu menghadapi tekanan hidup dengan lebih tenang.
Tak hanya dari sisi psikologis, puasa juga berdampak secara biologis. Aktivitas spiritual seperti doa dan zikir disebut mampu menurunkan hormon stres seperti kortisol serta meningkatkan hormon endorfin yang berkaitan dengan rasa bahagia. Selain itu, puasa turut mendukung kesehatan otak dengan meningkatkan produksi BDNF, protein penting bagi pertumbuhan dan perlindungan sel otak.
Meski demikian, Kemenkes mengingatkan puasa tetap perlu dijalani dengan bijak. Bagi individu dengan gangguan mental berat, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar menjadi faktor penting agar Ramadan tetap dapat dijalani dengan aman dan nyaman. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : detikHealth












