NARASITODAY.COM, JAKARTA – Belakangan ini, istilah Peter Pan Syndrome ramai diperbincangkan usai penyanyi Onadio Leonardo mengungkap pengalamannya menjalani konsultasi psikologis. Kondisi ini menggambarkan seseorang yang secara emosional dan perilaku cenderung “tertahan” di fase usia muda, meski secara usia sudah dewasa.
Spesialis kesehatan jiwa dr. Lahargo Kembaren, SpKJ menjelaskan bahwa individu dengan kecenderungan Peter Pan Syndrome biasanya mengalami kesulitan menjalani peran orang dewasa. Mereka cenderung menghindari tanggung jawab besar seperti komitmen jangka panjang, kemandirian finansial, hingga pengambilan keputusan penting dalam hidup.
Ciri lainnya antara lain ketergantungan emosional atau ekonomi pada orang lain, perilaku yang terkesan kekanak-kanakan, serta kesulitan mengelola stres dan konflik. Tak jarang, kondisi ini membuat seseorang mudah menyalahkan lingkungan atau orang lain atas masalah yang dihadapi.
Meski sering dibicarakan, dr. Lahargo menegaskan bahwa Peter Pan Syndrome bukan diagnosis medis resmi. Istilah ini digunakan untuk memudahkan pemahaman terhadap pola perilaku dan kematangan emosional seseorang. Penanganannya pun lebih berfokus pada pengembangan keterampilan hidup, kesadaran diri, serta dukungan psikologis yang tepat.
Dengan pendampingan profesional dan lingkungan yang suportif, kecenderungan ini dapat dikendalikan. Kesadaran dari individu menjadi langkah awal penting untuk mulai bertumbuh dan menghadapi fase kehidupan dengan lebih dewasa. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : detikHealth














