NARASITODAY.COM, JENEWA – Jendela kaca ruang perundingan yang menghadap ke danau Jenewa yang tenang, sebuah drama diplomatik tingkat tinggi baru saja usai. Namun, ketenangan di luar ruangan tidak mencerminkan apa yang terjadi di dalam. Perundingan damai selama dua hari antara Ukraina dan Rusia resmi berakhir pada Rabu (18/2/2026) tanpa menghasilkan terobosan besar, menyisakan jurang perbedaan yang masih menganga.
Ukraina datang ke Swiss dengan beban berat di pundak. Di medan perang, jaringan listrik mereka terus dihantam, sementara di panggung politik, bayang-bayang Washington memberikan tekanan yang tak kunjung reda.
Kemajuan Teknis di Tengah Kebuntuan Politik
Meskipun suasana diskusi diakui berjalan sangat sulit oleh kedua belah pihak, secercah harapan muncul dari aspek teknis. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dalam wawancara di YouTube bersama Piers Morgan, mengungkapkan bahwa para perunding mulai mematangkan detail pengawasan pasca-perang.
“Mereka lebih dekat dengan hasil di mana kita akan memiliki dokumen yang tertulis semua detailnya, bagaimana hal itu dapat atau harus dipantau setelahnya, segera setelah gencatan senjata,” kata Zelensky.
Meski demikian, masalah kedaulatan wilayah tetap menjadi “tembok raksasa” yang belum runtuh. Zelensky menegaskan bahwa urusan sensitif seperti ini tidak bisa diputuskan oleh delegasi tingkat menengah. “Masalah wilayah yang menyakitkan dan sulit dapat diselesaikan melalui pertemuan para pemimpin kedua negara,” tuturnya.
Optimisme Washington vs Kekecewaan Kyiv
Perbedaan nada bicara yang kontras muncul dari sekutu utama Ukraina. Saat Zelensky merasa hasil pertemuan belum memadai, Gedung Putih justru meniupkan angin optimisme. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut ada “kemajuan bermakna” dalam diskusi tersebut.
Leavitt menegaskan posisi Presiden Donald Trump yang ingin perang ini segera berakhir demi efisiensi anggaran. “Presiden Trump memandang situasi ini, yang sudah berlangsung hampir empat tahun, sangat tidak adil, bukan hanya bagi warga Rusia dan Ukraina yang kehilangan nyawa tetapi juga bagi pembayar pajak AS yang telah memberikan dukungan finansial kepada Ukraina,” ungkap Leavitt.
Di sisi lain, Moskow tetap pada posisi yang dingin namun profesional. Ketua perunding Rusia, Vladimir Medinsky, mengakui beratnya proses di meja hijau tersebut. “Pembicaraan ini sulit, tetapi dilakukan secara profesional,” ucap Medinsky singkat.
Tekanan Terbuka Donald Trump
Di sela-sela perundingan, tekanan publik dari Donald Trump menjadi bumbu pahit bagi pihak Kyiv. Trump memperingatkan agar Ukraina tidak menunda-nunda proses diplomasi. “Ukraina lebih baik datang ke meja perundingan dengan cepat. Hanya itu yang saya katakan kepada Anda,” tegas Trump kepada wartawan.
Zelensky, yang merasa dipojokkan oleh tuntutan konsesi wilayah termasuk tuntutan Rusia atas 20% wilayah Donetsk dan pengelolaan PLTN Zaporizhzhia akhirnya meluapkan keberatannya melalui media Axios.
“Tidak adil jika Trump terus menuntut konsesi secara terbuka dari Ukraina, bukan dari Rusia,” ujar Zelensky dengan nada getir.
Langkah Selanjutnya
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggal pasti untuk putaran perundingan berikutnya. Namun, Zelensky melalui pidato video malam harinya memberikan catatan tegas bagi rakyatnya dan dunia:
“Sampai hari ini, kita tidak bisa mengatakan bahwa hasilnya cukup. Pihak militer membahas masalah-masalah tertentu secara serius dan substantif. Masalah politik yang sensitif, kemungkinan kompromi, dan pertemuan para pemimpin yang diperlukan belum dibahas secara memadai.”
Di tengah musim dingin yang masih mencekam, masa depan Ukraina kini bergantung pada apakah meja diplomasi di masa depan mampu meluluhkan kekakuan politik yang saat ini masih membeku.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














