
NARASITODAY.COM, ABU DHABI – Di koridor kekuasaan Uni Emirat Arab (UEA), sebuah narasi liar sempat mencoba menyusup lewat celah layar digital. Serangkaian kampanye disinformasi terstruktur yang mengeklaim wafatnya Presiden Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) sempat membanjiri ruang siber, menciptakan riak spekulasi di tengah stabilitas salah satu negara paling berpengaruh di Timur Tengah tersebut.
Rumor ini mulai memanas setelah adanya penundaan kunjungan kenegaraan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, dan Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis, ke Abu Dhabi pertengahan bulan ini. Meski alasan kesehatan sempat diembuskan sebagai pemicu pembatalan, realita di lapangan menunjukkan sebaliknya.
MBZ justru terpantau aktif melakukan serangkaian panggilan telepon diplomatik dengan para pemimpin dunia, termasuk Presiden China Xi Jinping dan Presiden Lithuania Gitanas Nauseda.
Menepis segala kabar burung, MBZ muncul melalui akun resminya di platform X (Twitter) untuk memberikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek bagi warga dunia sebuah sinyal kuat bahwa roda kepemimpinan tetap berjalan normal.
“Saya menyatakan harapan bahwa tahun baru Imlek akan membawa perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran bagi masyarakat di seluruh dunia,” tulisnya seperti dikutip dari RT, Rabu (25/2/2026).
Analisis mendalam datang dari Murad Sadygzade, Presiden Middle East Studies Center di Moskow. Ia menilai bahwa rumor kematian pemimpin bukan sekadar hoaks biasa, melainkan strategi yang dirancang untuk melumpuhkan sistem pengambilan keputusan negara.
Menurut Sadygzade, dalam sistem politik di mana pemimpin menjadi arbiter tertinggi, ketidakpastian mengenai keberadaannya dapat menjadi “rem” bagi negosiasi internasional dan komitmen ekonomi.
“Tujuannya bukan untuk membuktikan klaim di pengadilan, atau bahkan untuk meyakinkan semua orang. Tujuannya adalah untuk menciptakan kabut yang cukup tebal sehingga aktor-aktor penting mulai ragu-ragu,” jelas Sadygzade.
Ia menambahkan bahwa rumor yang memasukkan pertanyaan kepemimpinan ke dalam negara yang berfungsi dengan baik merupakan serangan yang paling merusak.
“Bahkan klaim palsu pun dapat menimbulkan biaya nyata ketika memaksa para pejabat untuk mengalihkan perhatian dari kebijakan ke upaya meyakinkan publik.”
Menargetkan Kohesi Keluarga Penguasa
Kampanye disinformasi ini juga mulai menyeret nama-nama besar lainnya, termasuk Sheikh Tahnoun bin Zayed Al Nahyan, saudara laki-laki MBZ yang memegang posisi strategis namun tertutup. Posisi Sheikh Tahnoun dianggap ideal oleh para pembuat rumor untuk membangun narasi perpecahan internal yang sulit diverifikasi oleh pihak luar.
“Poinnya adalah bahwa dia cukup menonjol sehingga terdengar masuk akal bagi orang luar dan cukup tidak transparan sehingga orang luar tidak dapat dengan mudah memverifikasi dinamika internal. Kombinasi itu ideal bagi para pembuat rumor,” papar Sadygzade.
Meningkatnya serangan informasi ini diduga kuat berkaitan dengan peran UEA yang kian proaktif dalam konflik regional, mulai dari Yaman dan Sudan hingga Tanduk Afrika. Sadygzade menutup analisisnya dengan peringatan agar negara-negara di kawasan tetap waspada terhadap agenda di balik setiap kabar burung.
“Pelajaran yang dapat dipetik bukanlah memperlakukan setiap rumor sebagai sesuatu yang bermakna, tetapi memperlakukan setiap rumor sebagai sesuatu yang memiliki tujuan. Di Timur Tengah… negara-negara di kawasan ini perlu tetap waspada dan, dalam arti tertentu, waspada seperti landak,” pungkasnya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













