NARASITODAY.COM, JAKARTA – Mario Wuysang telah lama menanggalkan jersei kebesarannya, namun hatinya tak pernah benar-benar meninggalkan lapangan basket Indonesia. Meski sudah delapan tahun menetap di Amerika Serikat sejak pensiun pada 2018, sang Point God mengaku masih memantau setiap denyut perkembangan Indonesia Basketball League (IBL).
Namun, ada satu hal yang membuat legenda yang mengawali karier sejak 2003 ini merasa “iri”. Ia melihat format liga saat ini yang menerapkan sistem home and away (kandang dan tandang) sebagai kepingan puzzle yang hilang saat ia masih aktif melantai dahulu.
Rindu Atmosfer Kota Sendiri
Bagi Mario, sistem yang sudah berjalan dalam tiga musim terakhir ini adalah impian lama yang baru terwujud. Format ini memungkinkan suporter di berbagai kota merasakan ikatan emosional yang lebih kuat karena bisa mendukung tim kebanggaan di rumah sendiri, bukan sekadar menonton di lokasi netral.
Dalam perbincangan hangat di kanal YouTube Uncleroetalk bersama pemain Kesatria Bengawan Solo, Avan Seputra, Mario mengungkapkan ketidaksukaannya pada sistem seri yang ia jalani selama belasan tahun kariernya di klub-klub besar seperti Aspac Jakarta hingga CLS Knights.
“Saya sangat suka dengan home and away, saya berharap sistem ini bisa diterapkan dahulu ketika saya masih bermain. Saya tidak pernah suka sistem series,” ujar Mario.
Nostalgia Bandung hingga Surabaya
Mario mengenang bagaimana luar biasanya gairah basket di Indonesia sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di liga. Baginya, fanatisme suporter di kota-kota seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Solo adalah bahan bakar utama bagi para pemain.
Ia menceritakan betapa sulitnya sekadar menembus kerumunan massa di masa lalu, sebuah atmosfer yang kini ia yakini akan semakin membara dengan format kandang-tandang.
“Sejak 2003 ketika saya datang ke sini, para penonton selalu penuh di Bandung, Surabaya, bahkan untuk turun dari bis saja susah saat itu,” kenang Mario bernada nostalgia.
Potensi Solo di Mata Sang Legenda
Secara khusus, Mario menyoroti tim pendatang baru, Kesatria Bengawan Solo (KBS). Menurutnya, Solo memiliki potensi besar untuk menjadi “benteng” yang menakutkan bagi tim lawan berkat format baru ini.
“Dan dengan format ini seharusnya setiap pertandingan KBS bisa selalu penuh karena Solo merupakan satu di antara kota yang atmosfer basketnya luar biasa,” paparnya.
Evolusi Liga yang Kian Kompetitif
Sejak format kandang-tandang diperkenalkan secara penuh pada 2024, IBL memang tampak bersolek. Klub-klub peserta kini berlomba melakukan renovasi venue agar layak menggelar laga kandang. Evolusi tidak berhenti di sana; musim ini IBL juga meningkatkan tensi persaingan dengan mengubah format semifinal dan final menjadi sistem best of five, naik dari sebelumnya best of three.
Meski kini hanya bisa menyaksikan keriuhan itu dari balik layar di Negeri Paman Sam, Mario Wuysang tetaplah sang pionir yang ikut meletakkan dasar bagi kemegahan IBL yang dinikmati para pemain muda saat ini.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com














