NARASITODAY.COM, JAKARTA – Kejayaan medali emas Olimpiade 2024 yang masih membayangi dunia panjat tebing Indonesia kini tercoreng oleh badai skandal yang mengejutkan. Dalam sepekan terakhir, federasi panjat tebing Indonesia (FPTI) dihebohkan dengan laporan tindak kekerasan dan pelecehan seksual yang melibatkan pelatih kepala tim nasional, Hendra Basir sosok yang turut andil dalam keberhasilan Veddriq Leonardo.
Kasus ini bermula dari keberanian delapan atlet FPTI, terdiri dari lima putra dan tiga putri, yang melaporkan perilaku tidak pantas dari pelatih mereka. Menyikapi laporan serius tersebut, FPTI tidak tinggal diam. Organisasi langsung mengeluarkan surat keputusan pemberhentian sementara dan membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) untuk mengungkap tabir kebenaran.
Sekretaris Umum FPTI, Wahyu Pristiawan, menegaskan bahwa langkah nonaktifkan ini merupakan konsekuensi logis dari proses investigasi yang sedang berjalan.
“Jadi, sesuai surat keputusan organisasi, Hendra Basir diberhentikan sementara sampai dengan ada keputusan dari TPF [tim pencari fakta] yang telah dibentuk,” kata Wahyu, Selasa (24/2/2026).
Tangisan Bantahan dan Pembelaan
Sehari setelahnya, Rabu (25/2/2026), Hendra Basir muncul dengan pernyataan klarifikasi. Pria yang melambungkan nama Indonesia di kancah dunia itu membantah keras tuduhan yang dilontarkan kepadanya. Ia mengaku tak habis pikir jika aksinya di-“framing” sebagai tindakan mesum.
“Pada intinya, kalau dugaan kekerasan dan pelecehan, saya tidak tahu konteksnya seperti apa, karena sampai detik ini belum ada klarifikasi dari federasi,” kata Hendra kepada CNN Indonesia.
“Yang membuat drop ini kan, tindakan pelecehan seksual. Itu yang saya sampai saat ini tidak habis pikir. Tindakan ini di-framing-nya seakan-akan ada ajakan hal-hal aneh atau mesum. Itu fitnah,” tegasnya.
Namun, di tengah bantahannya, Hendra mengakui adanya kontak fisik intim dengan atlet putri, seperti memeluk dan mencium kening. Baginya, itu adalah bagian dari metode motivasi situasional yang ia terapkan, bukan pelecehan.
“Jadi yang saya lakukan sifatnya situasional di latihan dan kompetisi. Contoh, performanya tidak tampil dan atlet kecewa. Atlet saya marahi, biasanya atlet itu nangis,” ujar Hendra menjelaskan.
“Di situ saya peluk dan cium kening serta ubun-ubun. Itu semata-mata untuk penguatan ke atlet dan hal serupa saya lakukan ke anak setelah salat dan antar sekolah,” tambahnya.
Komitmen Zero Tolerance
Menyikapi polemik yang semakin berkecamak, Ketua Umum FPTI Yenny Wahid mengambil sikap tegas. Ia menekankan bahwa organisasi tidak akan berkompromi sedikit pun terhadap tindakan yang merugikan atlet.
“Saya selaku Ketua Umum PP FPTI telah menerima laporan dugaan pelanggaran etik dan langsung bergerak cepat untuk melindungi para atlet,” kata Yenny dalam keterangan tertulis, Jumat (27/2/2026).
“Saya berkomitmen untuk melindungi semua korban serta menegakkan prinsip zero tolerance terhadap tindakan pelecehan seksual maupun kekerasan fisik,” ujarnya menegaskan.
Isu ini pun merambat hingga ke tingkat nasional, menarik perhatian Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir hingga DPR RI. Kedua lembaga negara ini menyatakan dukungan penuh untuk mengusut tuntas kasus ini serta memberikan sanksi maksimal jika terbukti bersalah. Hingga Minggu (1/3), keputusan final masih ditunggu, dengan TPF FPTI yang masih merapatkan fakta-fakta di balik kasus ini.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














