
NARASITODAY.COM, QOM – Angin kematian yang berhembus dari serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu lalu tak hanya merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tetapi juga membangkitkan simbol kuno yang mencekam. Senin (2/3/2026), sebuah bendera merah darah berkibar tegas di atas kubah Masjid Jamkaran di kota suci Qom, menjadi isyarat visual yang tak terbantahkan yaitu sebuah pintu pembalasan telah dibuka lebar.
Kematian ulama Syiah berusia 86 tahun itu telah meninggalkan kekosongan sekaligus memantik kemarahan mendalam di antara pendukungnya. Bendera merah yang berkibar di kota yang menjadi jantung pendidikan teologi Syiah itu bukan sekadar kain berwarna, melainkan pesan politik dan religius yang sarat makna.
“Setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi, Teheran mengibarkan apa yang disebutnya sebagai ‘bendera balas dendam’ merah,” tulis akun X @IranObserver0, menyoroti momen yang langsung menarik perhatian dunia.
Laporan kantor berita ANI turut mengonfirmasi simbolisme kelam tersebut, menandai bahwa situs keagamaan penting itu kini menjadi panggung sumpah dendam. Masjid Jamkaran memang memegang tempat istimewa dalam sejarah Iran modern, menjadi salah satu situs kunci sejak Khamenei naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 1989.
“Setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi, Teheran mengibarkan apa yang disebutnya sebagai ‘bendera balas dendam’ merah di atas kubah Masjid Jamkaran, yang merupakan situs keagamaan penting,” lapor kantor berita ANI.
Ketegangan dan Upaya Damai
Di tengah atmosfer balas dendam yang mengental, upaya diplomatik ternyata masih berupaya menembus tembok permusuhan. Kementerian Luar Negeri Oman, yang selama ini dikenal sebagai mediator handal antara Washington dan Teheran, melontarkan secercah harapan.
Menyusul serangan Iran ke sejumlah negara Teluk termasuk Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi yang mengakibatkan kerusakan dan penutupan wilayah udara, Oman menyatakan ada sinyal keterbukaan dari Iran. Terlihat jalan setapak untuk melakukan deeskalasi di tengah gejolak.
“Iran dilaporkan siap untuk melakukan pembicaraan,” katanya dilaporkan Reuters, menawarkan kilatan optimisme di tengah bayang-bayang bendera merah yang berkibar di Qom.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com












