NARASITODAY.COM, JAKARTA – Suasana Ramadan di Kota Tua Yerusalem tahun ini terasa berbeda. Selama tiga hari terakhir, akses menuju Masjid Al-Aqsa dilaporkan ditutup oleh otoritas Israel. Dampaknya, tidak ada aktivitas salat berjamaah, termasuk salat Tarawih yang biasanya dipadati ribuan jemaah.
Penutupan tersebut terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Israel dan Iran. Otoritas setempat menyebut langkah itu sebagai bagian dari kebijakan darurat keamanan.
Sejumlah laporan media lokal Palestina menyebut area masjid tampak kosong. Gerbang-gerbang menuju kompleks ditutup dan penjagaan diperketat. Bahkan, aktivitas di sekitar kawasan Kota Tua turut dibatasi, sehingga pertokoan dan akses warga ikut terdampak.
Kantor berita resmi Palestina, WAFA, melaporkan bahwa penutupan dilakukan sejak akhir pekan lalu, bersamaan dengan pengumuman kebijakan keamanan yang lebih luas di wilayah tersebut. Sejumlah petugas dikerahkan di sekitar kompleks dan akses masuk dibatasi.
Bagi umat Islam, Masjid Al-Aqsa memiliki kedudukan istimewa. Selain menjadi kiblat pertama sebelum dipindahkan ke Masjidil Haram di Makkah, masjid ini juga terkait erat dengan peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Karena itu, penutupan di bulan Ramadan menimbulkan keprihatinan mendalam bagi banyak Muslim, baik di Palestina maupun di berbagai belahan dunia.
Sejumlah tokoh pengelola Wakaf Islam di Yerusalem menyampaikan kekhawatiran atas kondisi tersebut. Mereka menilai situasi ini berbeda dari Ramadan-ramadan sebelumnya, di mana Al-Aqsa tetap menjadi pusat ibadah meski dalam situasi politik yang tidak selalu stabil.
Hingga kini, belum ada kepastian kapan akses akan kembali dibuka sepenuhnya. Sementara itu, Ramadan di Yerusalem berlangsung dalam suasana sunyi, tanpa lantunan Tarawih yang biasanya menggema di pelataran Al-Aqsa. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : detikhikmah














