NARASITODAY.COM, JAKARTA – Saat perayaan Cap Go Meh sebagai puncak rangkaian Imlek, hidangan lontong Cap Go Meh hampir selalu hadir di meja makan. Bukan sekadar sajian pelengkap, makanan ini juga menyimpan filosofi yang mendalam.
Cap Go Meh sendiri dirayakan pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek dan menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian perayaan dalam tradisi Tionghoa. Momen ini umumnya diramaikan dengan festival lampion, pertunjukan barongsai, serta aneka kuliner khas sebagai wujud rasa syukur sekaligus ajang mempererat kebersamaan keluarga.
Di antara berbagai sajian, lontong Cap Go Meh menjadi salah satu menu yang paling identik. Berikut sejumlah fakta menarik di balik hidangan khas ini:
1. Kuliner Peranakan Tionghoa-Jawa
Lontong Cap Go Meh dikenal sebagai hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. Hidangan ini berkembang di wilayah pesisir utara Jawa, khususnya Semarang pada abad ke-19, ketika kota tersebut menjadi pusat perdagangan pada masa Hindia Belanda.
Interaksi antara imigran Tionghoa dan masyarakat Jawa, termasuk melalui pernikahan campuran, melahirkan budaya peranakan yang unik. Perpaduan tersebut turut tercermin dalam sajian lontong Cap Go Meh yang memadukan cita rasa dan tradisi dua budaya.
2. Terinspirasi Ketupat Opor Lebaran
Tampilan lontong Cap Go Meh sekilas mengingatkan pada hidangan ketupat opor ayam yang biasa disajikan saat Idul Fitri. Sajian ini memang terinspirasi dari tradisi kupat masyarakat Jawa.
Budayawan Tionghoa, Jongkie Tio, pernah menyebut bahwa masyarakat Tionghoa di Indonesia mengadaptasi tradisi tersebut sebagai bagian dari perayaan Cap Go Meh. Dari sinilah lahir hidangan yang menyerupai menu Lebaran, tetapi memiliki makna khas dalam tradisi Tionghoa.
3. Disajikan dalam Porsi Penuh
Ada tradisi tersendiri dalam penyajiannya. Sepiring lontong Cap Go Meh biasanya disajikan penuh dengan berbagai lauk dan pelengkap. Dalam kepercayaan Tionghoa, hidangan yang melimpah melambangkan doa untuk rezeki berlimpah.
Sementara dalam budaya Jawa, porsi yang melimpah juga menjadi simbol rasa syukur atas berkah yang diberikan Tuhan. Nilai-nilai ini kemudian berpadu dalam tradisi menyantap lontong Cap Go Meh.
4. Variasi Isi di Berbagai Daerah
Komposisi lontong Cap Go Meh bisa berbeda-beda di tiap daerah. Di Semarang, sajian ini umumnya dilengkapi opor ayam, sate, dan serundeng.
Di Surabaya dan beberapa wilayah Jawa Timur, terdapat tambahan telur petis atau telur pindang. Sementara di Singkawang, sebagian masyarakat mengganti ayam dengan daging babi atau ikan dalam kuah opor, menyesuaikan dengan tradisi setempat.
5. Sarat Makna Simbolis
Setiap komponen dalam lontong Cap Go Meh memiliki arti tersendiri. Lontong yang berbentuk panjang melambangkan harapan umur panjang. Opor ayam dianggap sebagai simbol kesejahteraan dan kemakmuran.
Telur pindang dipercaya membawa keberuntungan. Sambal goreng ati melambangkan ketulusan hati, sedangkan sayur labu dimaknai sebagai simbol keseimbangan hidup. Kuah berwarna kuning keemasan pun sering dikaitkan dengan kemakmuran.
Perpaduan beragam lauk dalam satu hidangan menjadi lambang keharmonisan dan keberagaman budaya Tionghoa dan Indonesia. Tak heran jika lontong Cap Go Meh bukan hanya sekadar makanan, melainkan simbol akulturasi yang kaya makna di setiap perayaan Cap Go Meh. (MG5)
Editor : Nathania
Sumber : detikfood














