NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Atmosfer di Gedung Putih memanas sesaat setelah Teheran mengumumkan suksesi kepemimpinannya. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bereaksi keras dan cenderung irit bicara menanggapi terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Republik Islam Iran pada Senin (9/3/2026).
Ketegangan ini bukan tanpa alasan. Hanya sepekan setelah serangan udara Amerika Serikat-Israel menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, Majelis Ahli Iran justru mengukuhkan putra sang mendiang untuk memegang tongkat estafet kekuasaan tertinggi di negeri para mullah tersebut.
Reaksi Dingin dari Gedung Putih
Alih-alih memberikan pernyataan diplomatik yang panjang, Trump menunjukkan ketidaksenangannya dengan jawaban yang singkat namun sarat ancaman. Saat ditanya mengenai posisi baru Mojtaba, Trump hanya memberikan respons dingin.
“Kita akan lihat nanti,” ujar Trump singkat sebagaimana dilaporkan oleh Al Jazeera, Senin (9/3/2026).
Namun, di balik layar, suasana dilaporkan jauh lebih bergejolak. Laporan dari Middle East Eye menyebutkan bahwa Trump benar-benar “tidak senang” dan secara tegas menganggap pemilihan Mojtaba sebagai sesuatu yang “tidak bisa diterima” oleh pemerintahannya.
Ambisi Intervensi Washington
Bagi Trump, suksesi di Iran seharusnya melibatkan restu dari Washington. Dalam pernyataan yang kontroversial pekan lalu, ia bahkan membandingkan situasi di Teheran dengan krisis politik di Venezuela, menegaskan keinginannya untuk mendikte siapa yang layak menduduki kursi nomor satu di Iran.
“Mereka membuang-buang waktu. Putra Khamenei tidak berpengaruh. Saya harus terlibat dalam penunjukan ini, seperti halnya dengan Delcy [Rodriguez] di Venezuela,” tegas Trump.
Trump secara terbuka menolak figur Mojtaba yang selama ini dianggap sebagai perpanjangan tangan ideologi keras ayahnya. Ia mendambakan sosok pemimpin yang lebih bisa berkompromi dengan kepentingan Barat.
“Putra Khamenei tidak dapat diterima oleh saya. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian ke Iran,” tambah Trump.
Sosok Misterius di Puncak Kekuasaan
Lahir pada 8 September 1969 di kota suci Mashhad, Mojtaba Khamenei (56) adalah sosok yang selama ini bergerak dalam kesenyapan. Berbeda dengan politisi pada umumnya, putra kedua dari enam bersaudara ini dikenal sangat tertutup, bahkan dalam acara-acara kenegaraan resmi.
Meskipun status ulama-nya dianggap berada di tingkat menengah, pengaruhnya di dalam korps keamanan Iran telah lama menjadikannya kandidat terkuat untuk meneruskan dinasti Khamenei. Kini, pria yang jarang tersenyum di depan kamera itu harus menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya: memimpin Iran di tengah kepungan sanksi dan ancaman militer langsung dari Donald Trump.
Pengumuman yang dilakukan oleh Majelis Ahli sesaat setelah tengah malam waktu Teheran itu kini resmi menempatkan Mojtaba dalam lintasan tabrakan langsung dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang kian agresif.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














