
NARASITODAY.COM,WASHINGTON D.C. – Ekonomi Amerika Serikat di tahun 2026 menjadi sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan. Di atas kertas, data makroekonomi menunjukkan kondisi yang relatif sehat, namun di balik jendela rumah tangga, jutaan konsumen merasa terhimpit. Fenomena ini menandai lahirnya era baru yang oleh para ahli disebut sebagai “E-shaped economy”.
Jika sebelumnya dunia mengenal K-shaped economy sebagai pemulihan yang tidak merata, pola “E” di tahun 2026 menggambarkan jurang ketimpangan yang jauh lebih ekstrem. Kelompok kaya terus melesat, sementara kelas menengah dan bawah berjuang keras untuk sekadar bertahan hidup.
Ilusi Angka Inflasi
Meski data dari lembaga statistik ekonomi menunjukkan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) berada di level 2,9% pada akhir 2025 turun jauh dari puncak 9% di tahun 2022 masyarakat tidak merasakan “keringanan” tersebut. Harga barang telanjur melambung tinggi dibanding level tahun 2020, sementara kenaikan upah riil justru stagnan.
Kondisi ini memicu kemerosotan mentalitas konsumen. Survei University of Michigan mencatat kepercayaan konsumen anjlok hampir 13% secara tahunan hingga Februari 2026.
Konsumsi Mewah vs “Costco Economy”
Struktur ekonomi saat ini digerakkan secara timpang. Analisis Moody’s Analytics mengungkapkan bahwa 20% rumah tangga terkaya menyumbang hampir 60% total belanja di AS. Mereka tetap konsumtif meski harga naik, yang memicu penyedia jasa kartu kredit premium seperti Chase Sapphire Reserve dan American Express Platinum menaikkan biaya tahunan mereka hingga angka US$795 dan US$895.
Di sisi lain, kelas menengah mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Heather Long, Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, menjuluki kelompok ini sebagai “Costco Economy”.
“Kelas menengah sekarang belanja dengan cara yang cemas. Mereka mencoba memaksimalkan setiap dolar dengan membeli dalam jumlah besar atau mencari harga paling murah,” kata Long mengacu pada perilaku konsumen yang berbondong-bondong ke toko grosir diskon.
Bergantung pada Utang dan Cicilan
Kondisi paling memprihatinkan dialami kelompok pendapatan bawah. Data Bank of America menunjukkan sekitar 24% rumah tangga hidup dari gaji ke gaji, dengan biaya pokok melahap 95% pendapatan mereka. Utang menjadi satu-satunya napas buatan.
Berdasarkan survei LendingTree, penggunaan layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) untuk membeli bahan makanan melonjak drastis menjadi 25% di tahun 2025, naik dari 14% di tahun sebelumnya. Selain itu, data Federal Reserve mengungkap bahwa 59% pemegang kartu kredit berpendapatan rendah terus membawa saldo utang dari bulan ke bulan tanpa mampu melunasinya.
Harapan Musim Pajak
Satu-satunya harapan jangka pendek bagi warga Amerika saat ini adalah pengembalian pajak (tax refund) musim 2026. Sekitar 35% penerima berencana menggunakan dana tersebut untuk menutup lubang utang. Namun, para ahli memperingatkan bahwa ini hanyalah obat penenang sementara.
“Kembalian pajak bisa membantu untuk sementara, tetapi tidak menyelesaikan masalah keterjangkauan yang terus berlangsung,” pungkas Heather Long.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













