Korea Utara Dukung Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran

0
Korea Utara
Kim Jong.Foto : jawapos.com

NARASITODAY.COM, PYONGYANG – Dari balik tirai besi yang dingin, Korea Utara mengirimkan pesan solidaritas yang hangat bagi Teheran. Menyusul tewasnya Ayatollah Khamenei dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu, Pyongyang secara resmi menyatakan dukungannya terhadap pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei.

Namun, di balik ucapan selamat tersebut, terselip retorika tajam yang membidik Washington sebagai “musuh bersama” dalam percaturan politik global.

Restu bagi Dinasti Khamenei

Melalui saluran resmi Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), Kementerian Luar Negeri Korea Utara menegaskan bahwa suksesi kepemimpinan di Iran adalah hak mutlak rakyatnya yang tidak boleh diintervensi oleh pihak asing manapun.

“Kami menghormati hak dan pilihan rakyat Iran untuk memilih pemimpin tertinggi mereka,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Pyongyang yang identitasnya dirahasiakan, dikutip Rabu (11/3/2026).

Baca Juga :  5 Cara Menonton TV di HP Secara Gratis Tanpa Perlu Aplikasi

Pernyataan tersebut tidak sekadar basa-basi diplomatik. Korea Utara menggunakan panggung ini untuk menyerang balik aksi militer AS dan Israel yang dianggap sebagai akar kekacauan di Timur Tengah.

“Amerika Serikat dan Israel menghancurkan fondasi perdamaian dan keamanan regional dan meningkatkan ketidakstabilan di seluruh dunia,” tambahnya dengan nada sengit.

Pyongyang menilai tindakan kedua negara tersebut telah melanggar integritas teritorial Iran dan merupakan upaya sistematis untuk menggulingkan tatanan sosial sebuah negara berdaulat. Menurut pejabat tersebut, langkah ini “pantas mendapat kritik dan penolakan dari seluruh dunia karena tidak pernah dapat ditoleransi.”

Baca Juga :  Iran Eksekusi Warga Ganda Terkait Tuduhan Spionase untuk Mossad, Swedia Protes

Diplomasi di Bawah Bayang-Bayang Nuklir

Sentuhan ketegangan terasa lebih nyata saat melihat posisi Korea Utara yang tetap teguh pada status nuklirnya. Meskipun Presiden AS Donald Trump berulang kali mencoba menghidupkan kembali dialog tingkat tinggi, Kim Jong Un tampaknya enggan menyerah pada sanksi ekonomi.

Belakangan, Kim Jong Un memberi isyarat bahwa kedua negara hanya bisa “bergaul” atau hidup berdampingan jika Washington bersedia menerima kenyataan pahit yakini Korea Utara adalah negara bersenjata nuklir.

Guntur dari Kapal Choe Hyon

Bukan Korea Utara namanya jika hanya bicara melalui lisan. Di saat yang hampir bersamaan dengan pernyataan dukungannya untuk Iran, Kim Jong Un terlihat berdiri di geladak kapal perusak angkatan laut Choe Hyon. Di bawah tatapan matanya, rudal jelajah strategis meluncur membelah langit.

Baca Juga :  Terobsesi Koleksi Pribadi, Pria Asal Jakarta Nekat Curi Kantong Semar Langka di Kebun Raya Bogor

Uji coba ini adalah yang kedua kalinya dalam sepekan terakhir, sebuah unjuk kekuatan yang mengonfirmasi ambisi Pyongyang untuk mempersenjatai angkatan lautnya dengan hulu ledak nuklir.

“Menekankan pentingnya memperluas pencegahan perang nuklir yang kuat dan andal,” tulis laporan KCNA merujuk pada arahan langsung dari sang Pemimpin Tertinggi dalam uji coba tersebut.

Dukungan untuk Iran dan desing rudal di atas laut Jepang menjadi pesan ganda dari Pyongyang yaitu bahwa di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, Korea Utara akan tetap menjadi sekutu setia bagi para penentang Barat, sambil terus mempertajam “taring” nuklirnya di garda terdepan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com