Pemerintah Pastikan Ekonomi Indonesia Tetap Solid di Tengah Gejolak Global

0
global
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.Foto : ugm.ac.id

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Di saat layar televisi dan portal berita global dipenuhi kekhawatiran akan pecahnya konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran, hiruk pikuk di pusat perbelanjaan Jakarta justru bercerita lain. Meski harga minyak mentah dunia mulai merangkak naik melewati ambang US$100 per barel, pemerintah menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia belum goyah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan sinyal optimisme saat ditemui di kantornya pada Senin (16/3/2026). Di tengah ancaman inflasi global, ia menggambarkan kondisi domestik Indonesia masih berada dalam zona nyaman berkat konsumsi masyarakat yang tetap bergairah.

Daya Beli yang Tak Surut

Terasa saat Airlangga menyinggung bagaimana geliat ekonomi terlihat nyata di lapangan. Pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) dan berbagai program diskon belanja menjadi “napas segar” bagi daya beli masyarakat.

Baca Juga :  Bupati Bogor Akan Hadirkan RPH Berstandar Tinggi dan Satu-Satunya Bersertifikat Halal untuk Jaminan Keamanan Pangan Masyarakat

“Kita punya konsumsi domestik itu masih kuat, masih 54% dari PDB, dan Mandiri Spending Index sudah 360,7, itu tinggi. Kalau kita lihat ke pasar-pasar atau ke mall ramai, dan program diskon dari Bina Belanja di Indonesia saja juga jalan terus. Apalagi THR sudah digelontorkan, sudah cair, sehingga daya beli masyarakat terasa baik,” ungkap Airlangga kepada awak media.

Selain faktor konsumsi, Airlangga memaparkan data teknis untuk menenangkan pasar. Ia menekankan bahwa rasio utang negara saat ini masih berada di level 40% dari PDB, jauh di bawah batas aman undang-undang sebesar 60%.

“Rasio utang luar negeri ini 29,9% itu utang yang luar negeri. Utang dalam negeri ada sekitar 10% lagi, jadi total utang kita 40%,” jelasnya. Ketahanan ini diperkuat dengan cadangan devisa yang diklaim masih mampu membiayai kebutuhan impor hingga 6 bulan ke depan.

Baca Juga :  Kemenkes Terbitkan Surat Edaran Waspada Virus Nipah, Meski Belum Ada Kasus di Indonesia

Manufaktur di Titik Tertinggi

Optimisme pemerintah juga bersumber dari sektor produksi. Indeks manufaktur Indonesia tercatat menyentuh angka 53,8, sebuah pencapaian yang disebut Airlangga sebagai all time high atau rekor tertinggi.

“Ini sebetulnya all time high, ini tertinggi. Artinya para manufaktur ini optimis dengan berbagai perjanjian yang ditandatangani, sehingga mereka punya kepercayaan tinggi terhadap apa yang dijalankan oleh pemerintah,” tambahnya.

Menghadapi fluktuasi harga energi dan pangan akibat perang, pemerintah memposisikan APBN sebagai “shock absorber” atau penyerap benturan agar dampak krisis tidak langsung memukul rakyat kecil.

Baca Juga :  Kecelakaan Maut di Jalan Raya Bogor-Jasinga, Pengendara Motor Tewas Tergilas Truk

“APBN tetap bekerja sebagai shock absorber dalam bentuk bantuan pangan Rp11,92 triliun dan juga memberikan THR, baik ASN, TNI, Polri, kemudian transportasi, subsidi, dan BBM,” imbuh Airlangga.

Meski tantangan eksternal kian berat, kinerja fiskal hingga Februari 2026 menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan pendapatan pajak mencapai 30,4% dan defisit yang terjaga di angka 0,53% dari PDB.

“Artinya secara makro, walaupun dalam situasi krisis perang, secara makro kita tetap kuat dan solid,” tegasnya. Dengan modal stabilitas tersebut, Airlangga percaya diri mematok target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,5% pada tahun 2026.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com