NARASITODAY.COM, SEOUL – Bayang-bayang krisis energi akibat memanasnya tensi di Timur Tengah memaksa Pemerintah Korea Selatan memutar otak. Di tengah deru mesin industri yang tak boleh mati, Seoul kini membuka peluang untuk kembali mengetuk pintu Moskow demi mengamankan pasokan minyak mentah dan nafta.
Kementerian Perindustrian Korea Selatan mengonfirmasi bahwa saat ini pemerintah tengah menjalin diskusi intensif dengan sektor swasta terkait kemungkinan impor energi dari Rusia. Langkah ini diambil sebagai benteng pertahanan untuk melindungi stabilitas energi nasional yang mulai terancam oleh konflik di Selat Hormuz.
“Masalah ini terkait dengan pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Rusia,” tulis kementerian tersebut dalam pesan teks resmi yang diterima media.
Dilema di Persimpangan Sanksi
Keputusan ini bukanlah perkara mudah. Sejak Desember 2022, berdasarkan data dari Korea National Oil Corporation, Korea Selatan telah menghentikan seluruh impor minyak mentah dari Rusia sebagai bentuk solidaritas internasional atas invasi Moskow ke Ukraina.
Namun, realitas ekonomi mulai menggigit. Laporan dari Korea Institute for International Economic Policy (KIEP) mencatat bahwa sebelum perang pecah, minyak Rusia menyumbang 5,6% dari total pengiriman ke Korea Selatan pada tahun 2021. Ironisnya, penghentian impor dari Rusia justru membuat ketergantungan Seoul terhadap Timur Tengah kian menebal.
Taruhan di Selat Hormuz
Ketergantungan ini menjadi titik lemah yang krusial. Saat ini, sekitar 70% minyak mentah dan separuh dari pasokan nafta Korea Selatan harus melewati Selat Hormuz—titik nadi perdagangan dunia yang kini berada dalam zona merah konflik.
Nafta bukan sekadar komoditas bagi Korea Selatan; ia adalah “darah” bagi industri petrokimia yang memproduksi plastik untuk otomotif, elektronik, hingga pakaian. Kehilangan akses terhadap bahan ini berarti melumpuhkan rantai produksi global.
Menanggapi situasi yang kian genting, Menteri Keuangan Koo Yun-cheol menegaskan langkah proteksi pemerintah. Pada hari Rabu lalu, ia mengumumkan bahwa negara akan membatasi ekspor nafta dan mengambil kebijakan strategis untuk melindungi stok dalam negeri.
“Negara akan membatasi ekspor nafta dan untuk sementara menetapkan bahan baku tersebut sebagai item keamanan ekonomi rantai pasokan,” tegas Koo Yun-cheol.
Langkah Seoul ini menandakan pergeseran pragmatis yaitu di mana keamanan energi domestik mulai diprioritaskan di atas ketatnya sanksi geopolitik, demi menjaga agar lampu-lampu di pabrik dan rumah warga tetap menyala.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber













