Israel Serang Ladang Gas Iran, Picu Eskalasi Perang Timur Tengah

0
AS
Ilustrasi bendera iran diangit biru. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TEL AVIVLangit di atas ladang gas South Pars, Iran, berubah menjadi palagan api pada Rabu malam, memicu guncangan hebat yang kini merambat ke seluruh rantai pasok energi dunia. Meski Israel memilih bungkam secara resmi, tabir keterlibatan sekutu mulai terkuak di balik puing-puing infrastruktur gas terbesar tersebut.

Tiga pejabat tinggi Israel, yang berbicara dengan syarat anonim pada Kamis (19/3/2026), mengungkapkan bahwa serangan presisi tersebut kemungkinan besar telah dikoordinasikan dengan Amerika Serikat. Meski demikian, mereka memberikan sinyalemen bahwa operasi serupa tidak akan terulang dalam waktu dekat.

Baca Juga :  Khamenei Salahkan Trump atas Gelombang Protes Iran, Lebih dari 3.000 Orang Tewas

Pesan Ganda dari Washington

Di tengah kekacauan tersebut, Presiden AS Donald Trump justru merilis pernyataan yang mengejutkan publik internasional melalui media sosialnya. Trump bersikeras bahwa Washington sama sekali tidak mengetahui rencana serangan ke jantung energi Iran itu.

“Washington tidak mengetahui apapun tentang serangan ini,” tulis Trump, seraya menambahkan sebuah syarat tegas bahwa Israel tidak akan melancarkan serangan susulan ke ladang gas tersebut, “kecuali Iran kembali menyerang Qatar.”

Para pejabat Israel mengaku tidak terkejut dengan gaya diplomasi “lepas tangan” sang Presiden. Mereka menyamakan situasi ini dengan insiden penghancuran depot bahan bakar Iran beberapa pekan lalu, di mana Kepala Pentagon Pete Hegseth juga menyatakan bahwa serangan tersebut bukan milik mereka.

Baca Juga :  NATO Hancurkan Rudal Balistik Iran Menuju Wilayah Udara Turki

Serangan di South Pars bukan sekadar aksi militer, melainkan pemicu ledakan konflik yang kini memasuki pekan ketiga. Iran merespons dengan serangan udara balasan yang masif, menyasar titik-titik vital di seluruh kawasan.

Dampaknya terasa sangat destruktif. Serangan balik Teheran dilaporkan telah menyebabkan kerusakan signifikan pada pabrik gas terbesar di dunia yang berlokasi di Qatar. Tak hanya itu, kilang minyak di Arab Saudi turut menjadi target, sementara Uni Emirat Arab terpaksa menutup fasilitas gasnya demi alasan keamanan.

Baca Juga :  Konflik Iran-AS Dinilai Berakhir Setelah Batas Waktu War Powers Resolution Berjalan

Eskalasi Tanpa Pintu Keluar

Insiden ini tercatat sebagai eskalasi terbesar dalam perang antara poros AS-Israel melawan Iran. Dengan lumpuhnya sejumlah fasilitas energi utama, ketegangan ini bukan lagi sekadar perebutan wilayah, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global.

Bagi warga di kawasan, dentuman di South Pars adalah lonceng peringatan bahwa perang energi telah mencapai puncaknya. Kini, mata dunia tertuju pada Qatar, yang menjadi bidak kunci dalam janji gencatan senjata sepihak yang dilontarkan oleh Trump.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber