NARASITODAY.COM, NEW YORK – Di bawah sorot lampu Markas Besar PBB yang tak pernah redup, nasib jalur perdagangan minyak dunia kini berada di ujung tanduk. Dewan Keamanan PBB (DK PBB) dijadwalkan menggelar pemungutan suara pada Selasa (7/4/2026) pukul 11.00 waktu New York, demi menetapkan resolusi terkait pembukaan blokade Selat Hormuz yang mencekik ekonomi global.
Pertemuan ini menjadi momen paling mendebarkan pekan ini. Pasalnya, hasil pemungutan suara ini akan keluar hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu pukul 20.00 yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump sebuah “jam mati” bagi Iran untuk membuka jalur air tersebut atau menghadapi konsekuensi lebih lanjut.
Resolusi yang “Melunak” di Tengah Ketegangan
Berdasarkan draf resolusi yang sempat dilihat oleh AFP, dokumen yang akan divoting kali ini tampak lebih “melunak” dibandingkan versi awalnya. Tidak ada lagi poin yang memberikan otorisasi penggunaan kekuatan militer, bahkan untuk tujuan pertahanan sekalipun.
Perubahan ini mencerminkan tarik-ulur diplomatik yang melelahkan. Sebelumnya, Bahrain dengan sokongan kuat Amerika Serikat dan negara-negara Teluk menuntut mandat PBB yang mengizinkan penggunaan kekuatan fisik guna menembus blokade Iran langkah yang diambil Teheran sejak pecahnya perang dengan AS dan Israel pada akhir Februari lalu.
Duta Besar Bahrain untuk PBB, Jamal Alrowaiei, menekankan betapa mendesaknya tindakan internasional terhadap situasi ini.
“Kita tidak dapat menerima terorisme ekonomi yang memengaruhi kawasan kita dan dunia, seluruh dunia terpengaruh oleh perkembangan ini,” tegas Alrowaiei dalam pernyataannya.
Celah Perdebatan di Balik Pintu Tertutup
Di balik retorika pembukaan blokade, jalan menuju mufakat rupanya tidak semulus yang diharapkan. Meskipun draf telah diperhalus, suara di dalam dewan tetap terbelah.
Negara-negara dengan hak veto seperti Rusia dan China, serta Prancis, dikabarkan menjadi pihak yang paling keras melayangkan keberatan atas draf resolusi tersebut. Keberatan inilah yang memaksa draf tersebut diubah berkali-kali dan menyebabkan jadwal pemungutan suara ditunda berulang kali hingga mencapai titik puncaknya hari ini.
Fatamorgana Perdamaian di Jalur Air
Selat Hormuz bukan sekadar jalur air tetapi ia adalah nadi energi dunia. Ketika Iran memutuskan untuk memberlakukan blokade, denyut ekonomi dunia seolah terhenti.
Kini, mata dunia tertuju pada layar perolehan suara di New York. Apakah diplomasi meja bundar mampu memberikan solusi damai, ataukah kegagalan resolusi ini justru akan menjadi pemantik bagi “kekuatan destruktif” yang telah diperingatkan oleh Washington? Hingga palu diketuk pukul 11.00 nanti, dunia hanya bisa menahan napas.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














