NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru pada Senin (13/4/2026) setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengumumkan blokade militer terhadap Selat Hormuz. Langkah drastis ini diambil menyusul kegagalan total negosiasi damai antara delegasi AS dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Langkah ini diprediksi akan mengguncang pasar energi dunia, mengingat Selat Hormuz adalah urat nadi global yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Melalui pengumuman yang menghentak di media sosial, Trump menegaskan bahwa militer AS akan mengambil kendali penuh atas jalur pelayaran paling vital tersebut.
“Mulai berlaku segera, Angkatan Laut AS akan memulai proses blokade terhadap seluruh kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump sebagaimana dilansir dari Bloomberg.
Dalam wawancara lanjutan dengan Fox News, Trump memberikan gambaran tentang ketegasan posisinya yang tidak mengenal kompromi. Ia menyebut blokade ini sebagai jalan terjal menuju normalisasi di masa depan.
“Ini soal semua atau tidak sama sekali. Akan ada waktu ketika semuanya kembali berjalan normal,” ujar Trump.
Diplomasi 21 Jam yang Berakhir Buntu
Keputusan blokade ini merupakan imbas langsung dari buntunya meja perundingan di Pakistan. Selama 21 jam, delegasi tingkat tinggi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance, bersama Steve Witkoff dan Jared Kushner, mencoba mencari titik temu dengan pejabat tinggi Iran. Namun, mediasi yang difasilitasi Pakistan tersebut gagal mengakhiri konflik yang telah membara selama enam pekan terakhir.
Kegagalan ini menghanguskan harapan gencatan senjata yang baru saja disepakati pekan lalu. Teheran menanggapi dengan menyebut tuntutan Washington terlalu berlebihan, meskipun mereka menyatakan masih membuka pintu bagi dialog di masa depan.
Perjudian Ekonomi Global
Blokade ini bukan tanpa risiko. Harga minyak global telah melonjak sekitar 30% sejak awal konflik, dengan beberapa kargo fisik kini menembus angka US$ 140 per barel. Dengan memutus jalur utama ekspor minyak Iran, AS berharap dapat melumpuhkan pendapatan utama Teheran yang selama ini justru diuntungkan oleh kenaikan harga minyak.
Pengamat militer menilai taktik ini sebagai cara Trump menekan Iran tanpa harus melakukan invasi fisik yang berisiko tinggi. Namun, melakukan blokade di pintu masuk Selat Hormuz menempatkan armada AS langsung dalam jangkauan rudal dan kekuatan militer Iran.
Di sisi lain, Trump juga memberikan peringatan keras terkait praktik pungutan biaya kapal yang dilakukan Iran, yang ia labeli sebagai “pemerasan global”. Ia menegaskan bahwa kapal-kapal yang masih nekat membayar upeti tersebut tidak akan mendapatkan perlindungan internasional.
Hingga berita ini diturunkan, keterlibatan sekutu AS masih menjadi tanda tanya. Meski Trump mengindikasikan keterlibatan Inggris melalui kapal penyapu ranjau, laporan internal menunjukkan London belum memiliki rencana pasti untuk terlibat langsung dalam aksi blokade yang berisiko memicu perang terbuka ini.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














