Donald Trump Tegaskan Tidak Akan Minta Maaf kepada Paus Leo XVI Setelah Kritikan Tajam

0
Trump
Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.Foto : bbc.com

NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C.Ketegangan diplomatik luar biasa kini pecah antara Washington dan Vatikan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan penolakannya untuk meminta maaf kepada Paus Leo XIV setelah meluncurkan serangkaian kritik tajam yang mengguncang publik dunia.

Di hadapan para jurnalis di Gedung Putih, Senin (13/4/2026), Trump menegaskan bahwa pernyataannya adalah respons defensif terhadap sikap politik sang Bapa Suci yang berseberangan dengan kebijakan luar negerinya.

Pangkal keributan ini bermula dari kritik Paus Leo XIV terhadap kebijakan militer AS di Timur Tengah. Trump, yang dikenal dengan gaya bicaranya yang lugas, merasa sang Paus terlalu mencampuri urusan keamanan nasional.

“Dia sangat menentang apa yang saya lakukan terkait Iran. Anda tidak bisa membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Paus Leo tidak akan senang dengan hasil akhirnya,” tegas Trump sebagaimana dikutip dari Associated Press (AP).

Trump bahkan melabeli pemimpin tertinggi Gereja Katolik tersebut dengan sebutan yang merendahkan. “Saya kira dia sangat lemah dalam hal kejahatan dan hal-hal lain, jadi saya tidak akan meminta maaf. Dia mengumumkannya ke publik. Saya hanya menanggapi Paus Leo,” tambahnya.

Baca Juga :  Trump Umumkan Keadaan Darurat Nasional di Perbatasan AS-Meksiko untuk Atasi Imigrasi

Perselisihan ini semakin memanas setelah Trump mengunggah pernyataan di Truth Social pada Minggu (12/4/2026). Ia menyebut terpilihnya Paus Leo yang berkebangsaan Amerika hanyalah strategi gereja untuk menghadapi pemerintahannya.

“Leo seharusnya bersyukur karena, seperti yang semua orang tahu, dia adalah kejutan yang mengejutkan… mereka berpikir itu akan menjadi cara terbaik untuk menghadapi Presiden Donald J. Trump,” tulisnya.

Baca Juga :  Bangun Kemandirian Anak dengan Free Range Parenting, Ini 5 Alasannya

Tak berhenti di situ, publik semakin berang ketika Trump mengunggah foto hasil kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan dirinya mengenakan jubah putih dalam pose menyerupai Yesus Kristus yang sedang menyembuhkan seseorang. Meski kemudian dihapus karena gelombang kecaman, Trump berkilah bahwa foto itu hanyalah penggambaran dirinya sebagai “Dokter Palang Merah”.

Menanggapi serangan beruntun dari Gedung Putih, Paus Leo XIV memilih untuk tetap tenang namun teguh. Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa tugasnya bukanlah untuk berpolitik, melainkan untuk menyuarakan kemanusiaan.

“Saya tidak takut terhadap pemerintahan Trump, ataupun untuk menyuarakan pesan Injil dengan lantang, itulah yang saya yakini menjadi tugas saya,” ujar Paus Leo.

Sebelumnya, dalam khotbah Minggu Palma di Vatikan, sang Paus secara terbuka mendesak dihentikannya perang antara AS-Israel melawan Iran. Ia menyebut perang tersebut sebagai sesuatu yang “mengerikan” dan mengingatkan bahwa Tuhan tidak mendengarkan doa-doa mereka yang memicu peperangan.

Baca Juga :  Gedung Putih Bantah Presiden AS Donald Trump Terima Begitu Saja Tuntutan Iran

Krisis Moral di Mata Publik

Peristiwa ini terlihat dari bagaimana masyarakat dunia kini terbelah. Di satu sisi, pendukung setia Trump melihat ini sebagai bentuk ketegasan pemimpin nasional, namun di sisi lain, jutaan umat Katolik dan tokoh dunia melihatnya sebagai penghinaan terhadap kesucian agama.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda meredanya “perang kata-kata” antara kedua pemimpin ini. Vatikan tetap pada posisinya sebagai penyeru perdamaian, sementara Trump terus memegang teguh prinsip “America First”, bahkan jika itu harus membuatnya berhadapan langsung dengan otoritas spiritual tertinggi di dunia.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com