NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Di balik senyum optimis yang dilemparkan Presiden Donald Trump ke ruang publik, ketegangan hebat rupanya masih menyelimuti ruang negosiasi di Washington. Gedung Putih secara tegas membantah spekulasi bahwa Amerika Serikat telah menerima mentah-mentah 10 tuntutan yang diajukan Iran dalam kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang dimulai Rabu (8/4/2026).
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, meluruskan informasi yang beredar luas bahwa Trump menyambut baik proposal awal dari Teheran. Menurutnya, citra yang terbentuk di publik mengenai posisi AS saat ini adalah sebuah kekeliruan besar.
Dalam konferensi pers yang digelar di Washington, Leavitt menegaskan bahwa tim negosiasi AS tetap memegang kendali penuh. Ia menggambarkan betapa kerasnya posisi Washington terhadap poin-poin awal yang disodorkan pihak Iran.
“Gagasan bahwa Presiden Trump akan menerima daftar keinginan Iran sebagai bagian dari kesepakatan adalah hal yang sama sekali tidak masuk akal,” ujar Leavitt dengan nada tegas, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Leavitt mengungkapkan bahwa proposal asli Iran yang berisi 10 poin utama termasuk hak pengayaan uranium dan pencabutan sanksi sama sekali tidak mendapat tempat di meja perundingan.
“[Proposal] benar-benar dibuang ke tempat sampah oleh tim AS,” tambah Leavitt, menggambarkan penolakan total pemerintah terhadap draf awal tersebut.
Menariknya, narasi keras yang dibangun Gedung Putih tampak sedikit kontras dengan “suara” sang presiden di jagat maya. Melalui platform miliknya, Truth Social, Donald Trump justru memberikan sinyal yang jauh lebih lunak dan optimis.
Trump menyebut proposal dari negeri para Mullah tersebut sebagai “dasar yang layak untuk bernegosiasi.” Ia membayangkan gencatan senjata ini sebagai sebuah jalan “dua arah” yang menguntungkan semua pihak.
“Periode dua minggu akan memungkinkan Perjanjian tersebut untuk diselesaikan dan diwujudkan,” tulis Trump dalam unggahannya yang bernada positif.
Meskipun Trump menunjukkan sikap terbuka, Karoline Leavitt memastikan bahwa prinsip utama Amerika Serikat tidak akan dikorbankan. Syarat mutlak bagi AS tetaplah penghentian total program nuklir Iran.
“Garis merah presiden, yaitu penghentian pengayaan Iran di Iran, tidak berubah,” tegas Leavitt.
Perseteruan ini berakar pada ambisi nuklir Teheran yang dituduh AS dan Israel sebagai ancaman global, yang memicu serangan besar sejak 28 Februari lalu. Setelah satu bulan perang yang menghancurkan, gencatan senjata dua pekan ini menjadi napas buatan bagi kemanusiaan, sekaligus medan perang diplomatik yang baru.
Kini, sementara publik menanti rincian revisi proposal yang akhirnya diterima AS, dunia melihat sebuah pola diplomasi unik yaitu di mana satu tangan Trump menawarkan jabat tangan di media sosial, namun tangan lainnya melalui Gedung Putih tetap memegang “tongkat pemukul” di meja perundingan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














