NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Lampu sorot ruang konferensi pers dan riuhnya linimasa media sosial, perilaku Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu badai spekulasi. Serangkaian pernyataan ekstrem yang dinilai tidak koheren dalam beberapa pekan terakhir telah melampaui sekadar retorika politik, memicu perdebatan nasional mengenai kondisi mental sang panglima tertinggi.
Dari ancaman untuk “menghapus Iran dari peta” hingga serangan verbal terhadap pemimpin Gereja Katolik, gaya komunikasi Trump kini dipandang semakin agresif dan sulit ditebak. Satu kalimat yang paling menggetarkan publik terjadi saat ia memperingatkan bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini” jika konflik eskalasi terus berlanjut.
Menanggapi gelombang keraguan tersebut, Gedung Putih segera memasang badan. Juru bicara kepresidenan, Davis Ingle, menepis anggapan adanya penurunan kognitif dan justru memuji daya tahan fisik serta mental sang Presiden.
“Ketajaman Presiden Trump, energi yang tak tertandingi, dan aksesibilitas historisnya sangat kontras dengan apa yang kita lihat selama empat tahun terakhir,” tegas Ingle kepada New York Times, Rabu (15/4/2026).
Kritik dari Dalam dan Luar
Namun, pembelaan tersebut tidak cukup untuk meredam kekhawatiran yang kini menyeberang ke garis partai. Kritik pedas justru datang dari tokoh konservatif seperti mantan anggota DPR, Marjorie Taylor Greene. Bagi Greene, pernyataan Trump soal Iran sudah melewati batas kewajaran.
“Itu bukan retorika keras, melainkan kegilaan,” ujarnya dalam wawancara bersama CNN International.
Suara-suara dari mantan lingkaran dalam Trump pun mulai bermunculan. Ty Cobb, mantan pengacara Trump, secara blak-blakan menyebutnya sebagai “seorang pria yang jelas-jelas gila,” sementara mantan Sekretaris Pers Stephanie Grisham menilai Trump “jelas tidak sehat.”
Di sisi lain, Partai Demokrat mulai mengambil langkah formal. Jamie Raskin telah meminta evaluasi medis resmi, menyoroti apa yang ia sebut sebagai “tanda-tanda yang konsisten dengan penurunan kognitif.”
Strategi Jenius atau Keruntuhan Kognitif?
Meski dihujani kritik, loyalis Trump tetap melihat perilaku ini sebagai bagian dari taktik “tekanan ekstrem” dalam diplomasi global. Kolumnis Liz Peek berargumen bahwa Trump “tahu persis apa yang dia lakukan.”
Trump sendiri tidak tinggal diam. Melalui media sosialnya, ia menyerang balik para kritikus dengan menyebut mereka memiliki “IQ rendah” dan menuding mereka sebagai “orang gila” yang hanya mencari publisitas murahan.
Angka yang Berbicara
Terlepas dari apakah ini strategi atau kondisi medis, publik Amerika tampak semakin cemas. Berdasarkan jajak pendapat Reuters/Ipsos pada Februari 2026:
| Indikator Persepsi Publik | Hasil Survei |
| Menilai Trump semakin tidak stabil seiring usia | 61% |
| Menganggap Trump tetap tajam secara mental | 45% (Turun dari 54% di 2023) |
Sejarah Amerika memang pernah mencatat spekulasi serupa pada tokoh besar seperti Abraham Lincoln hingga Ronald Reagan. Namun, di tengah ketegangan global tahun 2026, pertanyaan mengenai kesehatan mental Presiden bukan lagi sekadar gosip politik, melainkan isu keamanan nasional yang mendesak.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














