Dolar AS Menguat secara Moderat di Tengah Ketidakpastian Global

0
per dolar AS
Ilustrasi uang dolar yang berada dimesin uang.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah kembali mengguncang peta kekuatan mata uang dunia. Di tengah awan mendung ketidakpastian ekonomi, dolar AS kembali menunjukkan taringnya sebagai aset pelindung (safe haven), memaksa rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya untuk tetap waspada.

Meski demikian, guncangan kali ini dinilai tidak seganas krisis-krisis besar di masa lalu. Penasihat Ekonomi sekaligus Direktur Riset Dana Moneter Internasional (IMF), Pierre-Olivier Gourinchas, memberikan catatan penting dalam taklimat media IMF Spring Meetings, Rabu (15/4/2026).

Sentimen Risk-Off dan Pelarian Modal

Dinamika pasar keuangan saat ini merupakan respons alami dari kecemasan para investor. Ketika konflik bersenjata meletus, instrumen berisiko ditinggalkan, dan modal mengalir deras ke aset-aset yang dianggap “kebal” badai, seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat (U.S. Treasuries).

Baca Juga :  Indonesia Bukukan Rekor Pengunjung di Paviliun Osaka Expo 2025, Lampaui Target Awal

Gourinchas mengamati bahwa penguatan indeks dolar AS (DXY) saat ini memang nyata, namun polanya masih dalam batas yang wajar jika menilik catatan sejarah.

“Hal inilah yang kita amati setelah terjadinya konflik di kawasan Timur Tengah. Penguatan dolar tersebut tergolong moderat jika dibandingkan dengan standar historis, namun tetap merupakan suatu apresiasi,” ucap Gourinchas.

Ancaman Inflasi dan Jeratan Utang

Walaupun kenaikannya terbilang moderat, IMF tidak ingin dunia terlena. Setiap penguatan dolar adalah kabar buruk bagi stabilitas harga di negara-negara pengimpor. Depresiasi mata uang lokal terhadap dolar secara otomatis akan mengerek harga barang impor, yang pada akhirnya memicu tekanan inflasi.

Baca Juga :  Eksplorasi Tantangan Krisis Air Melalui Seni di Constellations H20

Bagi negara dengan tumpukan utang luar negeri, situasi ini menjadi beban ganda yang mengancam likuiditas nasional.

“Apresiasi ini kemudian menimbulkan tekanan inflasi di negara lain, karena dari perspektif mereka terjadi depresiasi mata uang domestik. Selain itu, kondisi ini juga memperketat kondisi keuangan, mengingat banyak dari negara tersebut memiliki kewajiban dalam denominasi dolar,” tambah Gourinchas.

Rekam Jejak DXY Sejak Konflik Meletus

Berdasarkan data Refinitiv per Kamis (16/4/2026) pukul 12.00 WIB, indeks dolar (DXY) terpantau stabil di level 98,16. Angka ini hanya bergerak tipis dari penutupan hari sebelumnya di posisi 98,12.

Baca Juga :  Francesco Bagnaia Menghadapi Tantangan Baru Setelah Gagal Juara di MotoGP Australia 2024

Sejarah pergerakan dolar sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026 menunjukkan fluktuasi yang menarik:

  • 27 Februari 2026: DXY berada di posisi 97,61.
  • 28 Februari 2026: Serangan AS-Israel ke Iran terjadi, DXY mulai merangkak naik.
  • 2 Maret 2026: Terjadi lonjakan awal ke level 98,38.
  • 30 Maret 2026: Mencapai puncak tertingginya di level 100,51.

Kini, meskipun DXY telah melandai ke level 98-an, pasar tetap memantau setiap perkembangan dari Timur Tengah. Bagi para pelaku pasar, moderasi penguatan dolar ini adalah napas lega sementara di tengah situasi dunia yang masih sangat cair dan mudah terbakar.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com