
NARASITODAY.COM, MELBOURNE – Sebuah rahasia kelam dari tahun 2010 kini resmi menjadi subjek penyelidikan kepolisian. Pihak berwenang Australia mengonfirmasi telah meluncurkan investigasi atas dugaan pelecehan seksual yang melibatkan dua bintang dunia, Ruby Rose dan Katy Perry.
Kasus ini mencuat setelah bintang serial Orange is the New Black, Ruby Rose, melontarkan pengakuan mengejutkan melalui media sosial Threads. Ia menuding Perry melakukan tindakan tak senonoh terhadapnya di klub malam Spice Market, kawasan bisnis Melbourne, saat ia masih berusia awal 20-an.
Penyelidikan Tim Khusus
Kepolisian Victoria memastikan bahwa kasus ini tidak dianggap remeh. Melalui pernyataan resmi kepada CNN, Kamis (16/4/2026), mereka menyatakan bahwa laporan tersebut kini ditangani oleh Tim Investigasi Pelanggaran Seksual dan Pelecehan Anak Melbourne (SOCIT).
“Kami sedang menyelidiki tuduhan yang berasal dari insiden yang diduga terjadi di kawasan pusat bisnis Melbourne,” ungkap juru bicara kepolisian. Namun, mereka menolak memberikan detail lebih lanjut mengingat proses investigasi yang sedang berjalan sensitif.
Antara Trauma dan Barter Visa
Ruby Rose tak segan membeberkan detail traumatis dari malam tersebut. Ia menggambarkan sebuah situasi mengerikan yang selama belasan tahun ia bungkus sebagai “cerita lucu saat mabuk” demi menekan rasa malunya.
“Dia (Katy Perry) tidak menciumku. Dia melihatku ‘bersandar’ di pangkuan sahabatku untuk menghindarinya, lalu ia membungkuk, menarik celana dalamnya ke samping, dan menggesekkan vaginanya… ke wajahku sampai mataku terbuka lebar dan aku muntah parah sampai nyembur ke dia,” tulis Rose lewat akun Threads miliknya, Senin (13/4).
Rose mengungkapkan alasan menyakitkan mengapa ia memilih bungkam selama hampir 20 tahun. Menurutnya, ada semacam “barter” kesepakatan setelah insiden itu terjadi, di mana Perry bersedia membantunya mendapatkan visa Amerika Serikat.
“Jadi saya merahasiakannya. Tapi saya memang memberitahu kalian bahwa dia bukan orang yang baik,” jelasnya menanggapi komentar penggemar.
Kini di usia 40 tahun, Rose mengaku tidak berniat membuat laporan formal secara hukum awalnya, namun keberaniannya muncul untuk melepaskan beban trauma yang selama ini menggerogoti jiwanya.
“Kamu tidak perlu orang lain memercayaimu, kamu hanya perlu mengeluarkan dari tubuhmu yang malang ini, sebelum itu menyebabkan kanker,” tutur Rose.
Bantahan Keras Pihak Katy Perry
Di sisi lain, kubu Katy Perry langsung meluncurkan serangan balik. Melalui perwakilannya, sang diva membantah keras seluruh tudingan Rose dan menyebutnya sebagai narasi palsu yang berbahaya.
“Tuduhan yang beredar di media sosial oleh Ruby Rose tentang Katy Perry bukan hanya sepenuhnya salah, tetapi juga kebohongan yang berbahaya,” tegas perwakilan Perry seperti dikutip dari Variety.
Pihak Perry bahkan menyindir rekam jejak Rose di media sosial yang dianggap sering melontarkan tuduhan serius terhadap berbagai individu namun berakhir dengan bantahan dari pihak-pihak terkait.
Kini, bola panas berada di tangan Tim SOCIT Melbourne. Di tengah perdebatan publik antara integritas sang penuduh dan reputasi sang tertuduh, penyelidikan ini menjadi ujian bagi hukum Australia untuk menggali kebenaran dari peristiwa yang telah tertimbun waktu selama 16 tahun.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













