Kekecewaan Melanda Generasi Muda Madagaskar Setelah Penangkapan Aktivis Gen Z

0
Madagaskar
Ilustrasi Demonstrasi. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, ANTANANARIVOHarapan besar yang sempat membuncah di jalanan Madagaskar pada Oktober lalu kini berganti menjadi kecemasan yang dingin. Kelompok muda Gen Z, yang menjadi motor penggerak tumbangnya rezim lama, kini justru berhadapan dengan jeruji besi di bawah pemerintahan yang dulu mereka elu-elukan sebagai pembawa perubahan.

Gelombang penangkapan aktivis muda mulai terjadi sejak 12 April 2026. Empat tokoh muda Herizo Andriamanantena, Miora Rakotomalala, Dina Randrianarisoa, dan Nomena Ratsihorimanana diamankan aparat hanya berselang dua hari setelah mereka menuntut kejelasan jadwal pemilihan umum.

Tuduhan Keamanan Negara

Kuasa hukum para aktivis, Aliarivelo Maromanana, mengungkapkan bahwa kliennya dijerat dengan pasal berat, yakni tuduhan melemahkan keamanan negara dan keterlibatan dalam konspirasi kriminal. Namun, Maromanana menegaskan bahwa langkah hukum ini terkesan dipaksakan tanpa landasan yang kuat.

Baca Juga :  Indonesia dan Madagaskar Sepakati Kerja Sama Visa, Tingkatkan Mobilitas Bilateral

“Mereka semua membantah dan tidak ada bukti sama sekali,” tegasnya, sebagaimana dilaporkan The Guardian, Senin (20/4/2026).

Ironisnya, tindakan represif ini terjadi di bawah kepemimpinan Kolonel Michael Randrianirina. Kolonel Michael naik ke tampuk kekuasaan melalui kudeta pada Oktober 2025, yang didorong oleh protes masif kaum muda untuk menggulingkan Presiden Andry Rajoelina.

Menanggapi kritik tersebut, Istana Kepresidenan berupaya menjaga jarak. Juru bicara presiden, Harry Laurent Rahajason, menyatakan bahwa proses hukum sepenuhnya berada di tangan kepolisian.

“Di Madagaskar ada pemisahan kekuasaan. Kepresidenan tidak ada hubungannya dengan kasus yang ditangani kepolisian nasional,” ujarnya.

Pola Lama di Wajah Baru

Meski sebagian aktivis telah dibebaskan, aura ketakutan tidak lantas sirna. Herizo Andriamanantena dilaporkan masih dalam penahanan hingga akhir pekan lalu. Bagi para pengamat, situasi ini merupakan pertanda bahwa reformasi yang dijanjikan hanyalah sekadar pergantian wajah, bukan sistem.

Baca Juga :  Bupati Bogor Rudy Susmanto dan Gubernur Jabar Terpilih Antusias Persiapkan Kebijakan Pembangunan dalam Retreat

Ketakandriana Rafitoson dari Transparency International Madagaskar menilai penangkapan ini sebagai lonceng kematian bagi kebebasan fundamental di negara berpenduduk 32 juta jiwa tersebut.

“Ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kebebasan fundamental. Pola seperti ini terjadi di pemerintahan sebelumnya dan diharapkan berhenti, tapi ternyata tidak,” kata Rafitoson.

Keluhan senada datang dari pemimpin Gen Z Madagasikara, Elliot Randriamandrato. Ia melihat kegagalan pemerintah dalam menghadirkan perbaikan ekonomi di salah satu negara termiskin di dunia ini, di mana PDB per kapita penduduknya hanya berkisar US$545 per tahun.

“Untuk saat ini belum ada reformasi nyata. Itu sebabnya masyarakat frustrasi karena tidak melihat perubahan yang jelas,” ungkap Elliot. Ia juga mengkritik sistem pemilu yang masih berpihak pada pemilik modal, “Saat ini, sistemnya hanya memungkinkan orang-orang dengan lebih banyak uang untuk menang.”

Baca Juga :  Indonesia Kirim Atlet Muda Berbakat di FEI Jumping World Challenge 2025 Menuju Olimpiade Remaja

Bayang-bayang Pengaruh Asing

Di tengah gejolak domestik, kemesraan baru antara pemerintah dengan Rusia menambah lapisan kekhawatiran. Kedatangan bantuan militer berupa helikopter dan tank dari Moskow memicu spekulasi mengenai arah kedaulatan negara ke depan.

Aktivis Shely Andriamihaja memberikan peringatan keras terkait ketergantungan baru ini. “Kami sangat khawatir tentang risiko penguasaan negara oleh pihak asing,” tuturnya.

Kini, rezim Kolonel Michael berada di persimpangan jalan. Tekanan dari generasi muda yang merasa dikhianati oleh revolusi yang mereka buat sendiri semakin membesar. Di Madagaskar, sejarah seolah sedang mengulang dirinya sendiri, meninggalkan rakyat dalam penantian panjang akan perubahan yang benar-benar nyata.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com